[fanfic] The Journey to Meet My Happiness Part 5

Pukul 07.15

Aku merasakan silau pada mataku, kutarik selimut menutupi kepalaku.

“Heii Yuna, c’mon wake up” suara Ah Wei terdengar sambil menyentuh kakiku.

“Aku masih mengantuk” ucapku malas-malasan.

“Terserah kau saja, Nara Unnie bilang kita akan sarapan jam 9” Ah Wei melanjutkan.

“Ne” ucapku masih bergelung di dalam selimut.

“Jisun sedang mandi, aku mau ke kekamar temanku” pamit Ah Wei.

Aku diam saja dan tetap bermalas-malasan di kasur empuk ini.

Baru beberapa menit.

“Unnie ayo bangun, kita jalan-jalan keliling hotel sebelum sarapan” Suara Jisun mengagetkan aku.

“Anio, aku masih mengantuk” Aku masih memejamkan mataku.

“Unnie-ya ayooo” kali ini Jisun mulai menarik selimutku.

Aku merasakan silau matahari mengenai mataku. Aigooo aku kembali menarik selimut.

“Aku benar-benar masih mengantuk Jisun-ah, kau sendiri saja yaa, Jebal !”

“Unnie-ya kau ini, yasudaa kalo begitu aku sendiri saja” suara Jisun terdengar kecewa lalu ku dengar suara pintu ditutup.

You’re my everything my love naegen neomani boyeo jakku nega saenggangna eonjena naneun useulsu isseo

Aku mendengar lantunan lagu Angel dari handphone-ku, tanganku bergerak ke meja samping untuk lampu tidur dan mengambil handphone-ku, aku membuka mataku dan menurunkan selimut, ku lihat screen depan hapeku “Jinki lalu aku membuka hape flip-ku dan membaca smsnya:

Mian ne Yuna-ya, aku sudah tidur tadi malam. Ah yang benar bagus? Kalo begitu aku akan menabung untuk berlibur disana dan kau harus jadi guide-ku yaah. Kebahagiaanmu sudah dimulai sejak mengenalku..hehehehe.

Aku tersenyum membaca sms dari sahabatku itu. Aku melihat jam di dinding kamar. Ah jam 08.00 pagi, berarti di Seoul jam 10.00 dan Jinki pasti sedang bersiap-siap untuk ke kampus. Aku membalas sms Jinki: Hahahaaha terserah kau saja asal kau membiayai tiket pesawatnya saja. Ahh benar aku bahagia bertemu sahabat sebaik kau, dan berkat kau tadi malam aku benar-benar bertemu secara tidak sengaja dengan mereka. Ahh Jinki-ya kuliah yang rajin yaa.

Aku meregangkan badanku, dan beranjak dari kasurku. Aku pergi ke balkon dan menghirup udara pagi di kota Bangkok. Aku mendengar hapeku berbunyi. Ahh itu pasti balasan dari Jinki. Aku mengambil hape-ku di atas kasur dan melihat balasan dari Jinki: Aku menunggu cerita lengkapnya saja, sudah yaa aku berangkat kuliah dulu. Kau hati-hati disana.

Aku menutup hape flip-ku dan membereskan kasur yang sangat berantakan karena di tiduri 3 orang sekaligus. Setelah itu aku menuju kamar mandi.

Aku memakai rok jins pendek dan memakai tanktop hitam kemudian ku dobel dengan hoodie biru, aku memakai sepatu kets dan menggerai rambut hitam sebahu-ku yang masih agak basah. Aku mengambil handphone dan dompet lalu keluar kamar menuju lift. Aku tidak mau melupakan benda bernama dompet itu. Tapi karena ke-babo-an ku itu jugalah yang melupakan dompet aku bisa bertemu dengan 4 orang namja tampan semalam. Aku tersenyum bahagia.

Aku sudah berada di depan restoran, aku melihat Jisun melambai-lambai padaku. Aku duduk di dekatnya. Saat makan Nara Unnie menjelaskan jadwal kami hari ini.

“Jam 12.00 nanti kalian berkumpul di ballroom karena kita akan menikmati suasana kota Bangkok, setelah itu jam 16.00 kita akan kembali ke hotel untuk bersiap-siap karena jam 18.00 nanti kita akan ke Impact Arena untuk menonton konser super Junior hari pertama”

Yaa cuman 4 jam jalan-jalan?? Mana cukup. Tapi yaudaalah tidak apa-apa, aku kan kesini untuk nonton SuShow. Aku sedikit kecewa karena yang aku tau Bangkok termasuk surganya dunia.

Setelah sarapan, aku melihat yang lain sudah berjalan-jalan melihat hotel. Sedangkan aku masih tetap bergeming di restoran bersama Jisun dan karyawan kpop magz yang lain.

“Unnie ayoo kita melihat-lihat hotel” Ajak Jisun.

“Kenapa tidak bersama Ah Wei dan yang lainnya saja” Aku masih menyantap Cake Tiramisu dengan pelan.

“Ah Unnie, aku saja susah berkomunikasi dengan Ah Wei, apalagi dengan elf jepang, yang kutahu cuman Gomenasai dan Arigato saja”

Aku tertawa. “Pake saja bahasa inggris”

“Unni-ya bahasa inggrisku sangat pas-pasan, cuman kau saja yang bisa berbahasa korea, tidak mungkinkan aku mengajak Nara Unnie dan Junghoo Hyung. Jebal” Jisun memohon padaku.

“Ah ne arayo” aku menyeleseikan suapan cake terakhirku dan berdiri. Setelah pamit pada Nara Unnie dan yang lainnya, aku dan Jisun mulai menjelajah hotel.

“Kita ke kamar dulu, ambil kamera dan tas”

“Ne” jawab Jisun.

Dompet, handphone, kamus bahasa korea-thailand, peta kota bangkok aku masukkan ke dalam tas ransel biru-ku sedangkan tas SLR Jinki aku sampirkan di lengan kananku.

Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi hotel, aku dan Jisun langsung menuju ke Ballroom untuk bertemu dengan yang lainnya.

*****

Huaaa aku benar-benar capek sekali, 4 jam kami berkeliling kota bangkok, aku sangat puas hari ini, aku hanya berbelanja beberapa pernak pernik. Di dalam kamar aku melihat hasil jepretanku, yaa cukup baguslah sebagai fotografer pemula.

Pukul 15.30

Aku sudah bersiap di ballroom bersama yang lainnya, kami semua menggunakan kaos putih bertuliskan kpop magz, dan tinggal menunggu mobil yang akan menjemput kami, setelah itu langsung menuju Impact arena. Aku menggunakan kaos putih bertuliskan kpop magz yang sudah ku gunting bagian kerahnya dan ku padu dengan rok jins hitam, aku memakai topi gatsby putihku. Tiba-tiba hapeku bergetar, aku melihat layarnya Appa Calling

Huaaa Appa?? aku baru ingat Appa terakhir meneleponku kemarin malam tepat setelah aku mengaktifkan hapeku di bandara Bangkok. Aku berjalan menjauhi ballroom dan mengangkat panggilan dari Appa. Aku gemetar.

“Yeoboseyo” aku menjaga ketenangan suaraku.

“Ne Yuna-ya, bagaimana kabarmu ??”

“Baik Appa. Bagaimana dengan nenek??”

“Nenek sudah di operasi tadi malam, masa kritisnya juga sudah lewat”

“Oh syukurlah kalau begitu”

“Kau sedang dimana? Bersama Jinki kah ??”

“Ah ne Appa. Aku sedang di rumah, Jinki sedang pergi ke supermarket” Aku berbohong.

“Oh pantas saja, tadi Appa menelepon Jinki, dia sedang berada di Supermarket makanya dia menyuruh Appa meneleponmu”

Fiiuuhhh untung saja. Jinki-ya kenapa bisa kebetulan seperti ini.

“Appa-ah kalau menelepon langsung saja ke handphone-ku tidak perlu merepotkan Jinki”

“Baiklah, oh yaa Yuna, Appa dan Umma akan….”

Belum selesai Appa bicara, aku langsung memotong pembicaraan Appa karena mobil Van yang sudah menjemput kami sudah datang dan Nara Unnie sudah memberi kode padaku untuk segera ke mobil.

“Appa-ya Jinki sudah pulang, dia kerepotan sekali, nanti ku telepon lagi. Annyeong Appa” aku langsung menutup handphone-ku dan berlari ke lobi depan hotel.

Pukul 18.00

Impact Arena Muang Thong Thani

Aku sudah berada di dalam concert hall bersama ribuan elf. Lightstick sapphire blue menerangi seluruh penjuru concert hall. Suara teriakan elf membahana, aku sampai merinding. Aku selalu tercengang setiap melihat kemegahan dan artistik panggung super show. Panggung itu sangat megah dengan screen besar dan lighting yang bisa menyorot kemanapun Super Junior berjalan. Aku selalu merasa bahagia merasakan euforia seperti ini. Disinilah seluruh elf berkumpul untuk mendukung Super Junior, di Super Show-lah Super Junior menunjukkan cintanya kepada elf.

Aku mendapat tempat VIP walopun jauh tapi posisi kami sangat strategis karena berada tepat di tengah panggung dan juga ada jarak yang cukup lenggang di depanku yang biasa di gunakan Super Junior untuk lewat menyapa penonton di bangku VIP.

Waktu sushow di Seoul kemarin aku membeli tiket bagian festival, berdiri. Tapi aku sangat puas karena bisa lebih dekat melihat mereka. Selama 3 jam aku berdiri dan berteriak-teriak dan ikut bernyanyi bersama Super Junior. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Tapi akibatnya, saat pulang kepalaku pusing hebat dan aku langsung ambruk begitu tiba di Apartment Sunghee dan langsung di bawa Sunghee ke rumah sakit. Aku merahasiakannya dari orang tuaku, aku hanya memberitahukan kepada Jinki.

Aku memasang lensa tambahan pada SLR agar bisa membidik secara jelas dari jarak jauh saperti ini. Sudah 10 menit namun konser belum di mulai. Aku merasakan hapeku bergetar di saku rok-ku, aku mengambilnya dan melihat nama Jinki Calling

Aku mengangkatnya.

“Yeoboseyo, wae?? Jinki-ya” suaraku sedikit berteriak karena sangat amat berisik disini.

“ad…..a ma…..s…aa…ll….aaahhh…….” suara jinki tidak terdengar jelas.

“Wae ??? suara mu tidak terdengar. Sudah kau sms saja. Oke?? Bye” aku langsung menutup telepon dan menaruh handphone-ku di dalam tas.

Tiba-tiba lampu mati dan screen besar di stage sudah menampilkan VCR Super Junior. Suara teriakan elf semakin membahana menguasai gedung. Ahh sudah mulai. Aku benar-benar deg-degan. Oppa, aku benar-benar menonton kalian.

Tiga jam aku lalui dengan sangat puas. Aku ikut menyanyi dan memainkan lighstick-ku. Berkali-kali member super junior berlalu lalang di hadapanku. Tapi aku tidak bisa memegang mereka, karena mereka berlari dan di kepung oleh bodyguard yang melindungi Oppadeul dari serbuan elf. Namun setidaknya aku sudah banyak mendapat foto-foto oppadeul. Aku melihat di layar kamera-ku. Sudah 748 foto yang ku ambil selama 3 jam penampilan oppadeul. Aku melirik Jisun, yang tengah melihat hasil rekamannya pada handycam-nya. Aku keluar dari Impact Arena dengan perasaan bahagia luar biasa, kaosku basah oleh keringat.

Pukul 21.35

Kami tiba di hotel dan langsung beranjak ke kamar masing-masing. Ahh aku butuh mandi. Sampai di kamar Jisun langsung menyalakan notebook-nya dan memindahkan foto-foto dan rekaman selama sushow dari handycam-nya ke notebook-nya.

“Unnie, aku liat hasil jepretanmu” Pinta Jisun.

“Ne, nanti aku mandi dulu, badanku sudah basah”

Ah Wei dan Jisun saling melihat hasil foto ataupun rekaman mereka masing-masing.

Aku langsung ke kamar mandi. Aku bernyanyi-nyanyi menggunakan shower, setelah mandi aku mengeringkan badanku dengan baju handuk biru-ku, aku menggelung rambutku yang basah dengan handuk lain, saking senang di campur rasa lelah, aku tidak memperhatikan langkahku, aku terpeleset dan keningku sukses menabrak pinggir westafel. Aku melihat darah mengucur dari pinggir keningku. Ahhh aigooo cerobohnya diriku.

Aku keluar dari kamar mandi dengan memegang keningku yang kututupi dengan handuk. Jisun dan Ah Wei panik melihat darahku merembes dari handuk.

“Sebentar aku ke kamar Nara Unnie” Ah Wei segera keluar kamar.

“Unnie-ya kenapa bisa seperti ini, aduh bagaimana ini darahnya tidak berhenti” Jisun makin panik.

“Tadi aku bernyanyi saking senangnya, yaa aku lalai dan terpeleset” ucapku sedikit meringis menahan perih pada keningku.

Nara unnie dan Junghoo Hyung masuk di ikuti seorang room boy, di belakangnya ada Ah Wei dan temannya, Song Qian juga 2 elf dari Jepang, Miyuki dan Akira. Mereka memandang cemas pada keadaanku.

Aku tidak begitu panik. Karena aku sudah pernah mendapat luka jauh lebih parah daripada ini. Aigoo apa kata Umma dan Appa nanti melihat keadaanku seperti ini.

Luka di keningku tidak begitu serius, sehingga tidak perlu ke rumah sakit. Lukanya cukup dalam namun tidak robek. Begitu kata roomboy itu. Dia menutup lukaku dengan perban dan memberikanku obat penahan rasa sakit. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

Setelah semuanya keluar dari kamar setelah menanyakan keadaanku yang ku jawab dengan “Iam okay”, kemudian Jisun mandi, begitu juga dengan Ah Wei.

Aku membuka tasku dan mengambil kameraku, aku melihat hape-ku, aihh kok mati sih baterai-nya pasti habis. Aku mencolokkan charger hape-ku pada stop kontak dan menyalakan hape-ku. Aku kaget melihat layar hape-ku 10 Missed Calls. 8 message received.

5 panggilan dari Jinki, 3 Panggilan dari Appa dan 2 Panggilan dari Umma. Aku sedikit cemas dan khawatir. Aku membuka inbox-ku, kini aku sudah gemetaran.

5 message dari Jinki:

Ada masalah, appa-mu akan pulang malam ini.

Kenapa kau tidak mengangkat teleponku, appa-mu sudah berkali-kali meneleponku menanyakan kau dimana. Aku hanya bilang kau sudah tidur, namun sepertinya dia tidak percaya, dia menyuruh ku membangunkanmu.

Yuna-ya angkat telefon Appa-mu!!!!

Yuna-ya Appamu ingin bicara denganmu.

Yuna Appa-mu sudah ada di bandara Narita, dia menyuruhku menyampaikan padamu, dalam waktu 2 jam dia akan tiba di Seoul.

2 Message dari Appa:

Yuna-ya tadi Appa mau bilang padamu, Appa dan Umma akan pulang malam ini. Nenekmu sudah melewati masa kritisnya dan sudah di jaga oleh Pamanmu.

Yuna angkat telfonmu.

1 Message dari Umma

Kami sudah berada di bandara, 2 jam lagi kami akan tiba di seoul.

Aku benar-benar ketakutan sekarang membaca sms-sms itu, aku mengigil hebat. Aku melihat jam 21.55, berarti di Seoul sudah jam 23.55. Aku menaruh hape-ku dengan perasaan ketakutan.

“Ada apa?” tanya Ah Wei.

“Anio, tidak ada apa-apa” kataku berbohong.

Aku menuju lemari, mengambil pakaian ganti dan langsung memakainya.

Neo gateun saram tto eopseo juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi Neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun ma eum neo gatchi joheun seonmul

Beberapa menit kemudian lantunan No Other mengalun dari handphone-ku, dengan perasaan was-was aku mengambil hape-ku.

Jinki Calling…

“Yeoboseyo”

“Kau kemana saja ?!!!” Jinki langsung membentakku.

“Handphone ku mati”

“Kau jangan bohong, kau mematikannya kan??!!”

“Anio, aku menaruh handphone-ku di dalam tasku dan aku benar tidak sadar ada sms atau telepon, tadi aku menonton sushow” ucapku pelan. Mata Ah Wei sudah melirikku. Aku mencopot charger dan langsung ke balkon.

“Terserah kau saja, Appa-mu akhirnya percaya kau sudah tidur. Mereka sudah tiba di Incheon, barusan Appa-mu mengirim sms padaku”

“Terus bagaimana Jinki-ya???” Air mataku sudah menggenangi pelupuk mataku.

“……” Jinki terdiam.

“Jinki-ya waeyo???”

“Aku tidak mungkin pulang sekarang, aku pulang besok lusa, toh kalo aku pulang sekarang mereka akan tau aku tidak berada di rumah lagipula aku juga masih ingin disini, besok fanmeet Jinki-ya, di fanmeet aku akan menyerahkan hadiah yang sudah aku siapkan” Aku bicara dengan suara terisak pelan.

Bahuku di sentuh oleh Ah Wei “what happen Yuna ??” suaranya pelan. Aku hanya menggeleng dan menyuruhnya masuk.

“Jinki ?? bicaralah”

“Aku tidak tau Yuna-ya, orang tuamu pasti marah besar padaku” aku mendengar suara Jinki pelan di sertai isakan lirih.

“Kau menangis Jinki-ya ??”

“Orang tuamu pasti tidak akan mempercayai aku lagi”

“Mianheyo Jinki-ya, mianhaeyo kau jadi terlibat” aku sudah terduduk lemas di balkon.

“Sebentar. Appa-mu menelepon”

Aku benar-benar cemas sekarang. Aku takut mereka pasti marah besar padaku, Jinki yang tidak bersalah akan kena imbasnya juga.

“Yuna-ya” suara Jinki terdengar.

“waeyo??”

“Appa dan Umma-mu sudah sampai di depan rumahmu” ucap Jinki lemah.

“Jinki-ya, mianhaeyo”

“Aku tutup dulu” suara Jinki makin lirih.

Jinki POV

Sudah 3 jam aku uring-uringan menelepon handphone Yuna yang tidak aktif. Dan sekarang Appa-nya meneleponku mengatakan bahwa mereka sudah tiba di Seoul. Aku benar-benar ketakutan. Apa yang harus aku katakan pada Appa dan Umma Yuna??

“Mianheyo Jinki-ya, mianhaeyo kau jadi terlibat” suara Yuna sudah bercampur dengan tangisan.

Aku benar-benar tidak tau harus mengatakan apa pada Yuna. Aku tidak bisa memberikan ketenangan pada Yuna, karena aku sendiri dalam keadaan gelisah dan ketakutan.

Aku mendengar nada panggilan tunggu. Yuna Appa Calling…

“Sebentar. Appa-mu menelepon” Ucapku pada Yuna.

“Yeoboseyo” aku menenangkan suaraku.

“Jinki-ya, kau masih di rumah kan??”suara Appa Yuna terdengar.

“Ne, ahjussi” jawabku lemah.

“Aku sudah sampai di depan, bisa kau tolong buka pintu”

“Baik Ahjussi”

“Yuna-ya” aku memanggil Yuna.

“waeyo??” Tanyanya cemas.

“Appa dan Umma-mu sudah sampai di depan rumahmu” ucapku lemah.

“Jinki-ya, mianhaeyo”

“Aku tutup dulu” suaraku makin lirih.

Aku berjalan gontai ke arah ruang tamu, aku membuka pintu. Aku melihat taksi putih di depan pagar, aku menuju pagar depan dan membukanya.

“Jinki-ya gomawo” Appa Yuna tersenyum dan memelukku.

“Kau sampai tengah malam begini menjaga Yuna” Umma Yuna menepuk pundakku.

“Bagaimana kuliah kalian??” Tanya Appa Yuna sambil membawa kopernya.

“Lancar ahjussi, hanya tugas yang semakin banyak” Aku benar-benar ketakutan. Sekarang kami sudah masuk ke dalam rumah.

“Yuna, masih tidur Jinki ??” Tanya Umma Yuna padaku.

Aku terdiam dan menunduk.

“Jinki-ya ??” Panggil Umma Yuna.

“Biarkan aku saja yang ke kamarnya, aku rindu pada anak bawel itu” ucap Umma Yuna sambil berjalan ke arah kamar Yuna.

Aku benar-benar bingung. Aku langsung berlutut di hadapan Appa Yuna.

“Mianhamnida ahjussi, mianhamnida ahjumma” Aku menunduk.

“Waeyo?? Jinki-ya??” Tanya Appa Yuna.

“Yuna….”

“Yuna kenapa??” Tanya Umma Yuna.

Umma Yuna langsung membuka pintu kamar Yuna dan mendapati kamar itu dalam keadaan kosong.

“Yuna, eoddiya Jinki-ya ??” suara Umma Yuna cemas.

“Yuna diaaa…”

“JINKI, YUNA KEMANA?!!!” Suara Appa Yuna mulai meninggi.

“Yuna menonton konser” ucapku pelan.

“Konser Super Junior hah??!!!” Umma Yuna mengguncang-guncang pundakku.

Aku hanya mengangguk pelan. Mianhaeyo Yuna. Aku tidak bisa melindungimu.

Appa Yuna menarik kerah bajuku dan menyuruhku berdiri “DIMANA HAH?? DIMANA YUNA MENONTONNYA??” Suara Appa Yuna bergetar tanda dia marah.

Aku tidak berani menatap wajah Appa Yuna yang sangat ku hormati, seperti aku menghormati almarhum Appa-ku.

“DIMANA JINKI-YA??” Tanya Appa Yuna sambil mengguncang-guncang tubuhku kencang.

“Di Bangkok” suaraku pelan nyaris tidak terdengar.

“MWO?? BANGKOK???!!! BAGAIMANA BISA??!!!” Appa Yuna menghempaskan tubuhku ke lantai.

Air mata sudah mengalir hangat di pipiku.

“Yuna memenangkan undian menonton konser Super Junior di bangkok” ucapku lirih.

Appa Yuna menampar pipiku.

“KAU BILANG KAU SANGGUP MENJAGA YUNA, KAU SUDAH BERJANJI PADAKU DAN UMMA YUNA UNTUK MENJAGA YUNA, KAMI SANGAT PERCAYA PADAMU JINKI-YA. KENAPA KAU MENGKHIANATI KAMI HAH??” Appa Yuna mengguncangkan tubuhku.

“Sudah yeobo, berhenti” Umma Yuna melepaskan pegangan Appa Yuna pada bahuku.

“Jinki-ya, aku benar-benar mempercayaimu menjaga Yuna karena kau adalah sahabat Yuna, saat aku mendengar ucapanmu tempo hari untuk menjaga Yuna, aku benar-benar senang karena kau bisa menggantikan posisi kami saat kami tidak ada…” Suara Umma Yuna bergetar bercampur dengan tangisan.

“Tapi kau mengecewakan aku, Jinki-ya..” lanjut Umma Yuna lirih.

Yuna POV

Air mataku sudah mengalir deras, aku sesenggukan di balkon. Aku benar-benar tidak mau pulang. Konser Super Junior masih ada sekali lagi besok malam dan acara fanmeet juga akan diadakan besok siang. Itulah kesempatanku bertemu dengan mereka semuanya dan menyerahkan hadiah yang sudah kusiapkan. Aku benar-benar tidak mau pulang. Aku juga memikirkan keadaan Jinki. Appa kalau sudah marah bisa sangat kasar. Aku menangis sambil memeluk lututku.

Ah Wei dan Jisun menyentuh bahuku.

“Unnie waeyo ??”

Aku menggeleng dan memeluk Jisun erat.

“Appa….”

“Ada apa dengan Appa mu Unnie ??”

Belum selesei aku menjawab pertanyaan Jisun, hapeku bergetar. Appa Calling….

“Yeoboseyo”

“KAU DIMANA YUNA-YA ???!!!”

“Appa…..”

“APA KECEWA SEKALI PADAMU”

“Appa… mianheyo…”

“LEBIH BAIK KAU PULANG SEKARANG!!!”

“Appa-ya, aku masih ingin disini, konser itu tinggal sehari lagi…. Appa-ya kumohon”

“PERSETAN DENGAN KONSER, LEBIH BAIK KAU PESAN TIKET SEKARANG DAN TERBANG KE SEOUL SEGERA, APPA BENAR-BENAR TIDAK BISA MENTOLERIR KELAKUANMU INI”

“Appa-ya ku mohon biarkan aku sehari lagi disini, besok masih ada konser dan fanmeet”

“FANMEET HAH??!!! KAU TIDAK INGAT KEJADIAN 4 TAHUN LALU WAKTU KAU IKUT FANMEET HAH??!!! APPA TIDAK PEDULI, PESAN TIKET SEKARANG DAN SEGERA PULANG”

“Appa-ya aku mohon sekali ini saja, aku janji tidak akan menonton konser super junior lagi, aku akan membakar kaset-kaset yang aku punya, aku akan mengubur semua barang-barang super junior dan aku juga akan melepas super junior Appa, namun berikan kesempatan sekali lagi Appa… terakhir kalinya Appa” suaraku sudah bergetar, air mataku sudah mengalir deras, dadaku sesak dan hatiku sakit mengucapkan kata-kata itu.

Aku melihat Jisun kaget mendengar kata-kataku tadi, dan di wajahnya masih timbul rasa penasaran.

“YUNA-YA DENGAR APPA, APPA SUDAH TIDAK PERCAYA KATA-KATAMU LAGI, KAU SELALU BILANG TERAKHIR TAPI KAU SELALU MELANGGARNYA, APPA TIDAK PEDULI. APPA BENAR-BENAR SAKIT HATI KAU BOHONGI SEPERTI ITU” suara Appa bergetar hebat.

“Ku mohon Appa, percayai kata-kata ku sekali ini saja….”

“KALAU KAU TIDAK MAU BIAR APPA YANG AKAN MENYUSULMU KE BANGKOK !!!”

TBC

Give advice and Comment yaa.

Gomawo.

5 thoughts on “[fanfic] The Journey to Meet My Happiness Part 5

  1. Y Allah appa… Omma.. kami mohon biarkan Yuna bertemu oopadeul *ngesot-ngesot*
    Huwaaaaaa kasian Yuna….
    Brarti pas kejedot tu emang dah pertanda jelek.. ckckckck…
    KYuuuuu cepet tahan Yuna biar g pulang!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s