[fanfic] The Journey to Meet My Happiness Part 7

Song: Sapphire Blue, Thank U, Good Person, My All Is In You

Pukul 00.15

Kami semua kembali ke kekamar masing-masing. Ah Wei dan Jisun tengah asyik bercerita di atas tempat tidur mengenai sejam bersama Super Junior tadi. Aku hanya tertawa mendengar mereka berbicara, bahasa korea, bahasa inggris dan bahasa mandarin terdengar mengiringi pembicaraan mereka.  Belum lagi kamus elektronik Inggris-Korea milik Jisun yang berbunyi terus karena di pakai oleh sang pemilik.
Aku sendiri sedang duduk di balkon, menatap kota Bangkok yang akan kutinggalkan dalam beberapa jam lagi. Konser Super Junior dan Fanmeet besok tidak mungkin kudatangi.  Aku juga belum sempat memberikan hadiahku pada Super Junior. Ahhh Appa…Umma kenapa kalian sangat membenci Super Junior. Kalian membenci 13 orang yang salah, kalian membenci 13 orang yang menjadi motivator untuk putri kalian ini, kalian membenci 13 orang yang membuat putri kalian bisa bangkit. Appa Umma apa kalian tahu jika aku ingin menyerah aku pasti menyerah sejak kakiku patah, jika aku putus asa pasti aku tidak pernah bangkit sejak kecelakaan itu, dan apa kalian tau aku bisa sembuh dan tersenyum sampai saat ini karena 13 orang yang kalian benci itu. Huffft… aku merasakan air mata mengalir pelan di pipiku. 

“Unnie-ya, ceritakan pengalamanmu” suara Jisun mengagetkan aku. Aku segera menghapus air mataku dan bergabung dengan kedua roommates ku itu.

Pukul 02.20

Aku masih belum bisa memejamkan mataku. Perasaanku sangat gelisah. Aku melihat jam di hape-ku. Ahh kira-kira 2 jam lagi Appa dan Umma akan sampai di Bangkok. Aku melihat Jisun dan Ah Wei sudah bergelut dengan mimpi-mimpi indah mereka bersama Super Junior. Mungkin.

Aku bangun dari tempat tidur, menuju balkon. Ahh aku ingin berbicara dengan seseorang. Aku ingin mengeluarkan keluh kesahku. Arrgggghh aku benar-benar sedang gundah. Aku membuka hape samsung anycall-ku dan langsung menekan bookmark twitter, aku melihat mention dari Sunghee: @yuna0203 aku sudah mendengar dari Jinki, kau pasti bisa meyakinkan orang tuamu.

Aku meretweet mention Sunghee: Semoga Sunghee-ya, aku benar-benar gelisah sekarang RT@HeeHee10

Kemudian aku mengirim mention pada Jinki: @LeeJin mianhaeyo, jeongmal mianhaeyo. I’am a bad bestfriend. Really bad.

Aku iseng mengirim mention pada Kyuhyun: @GaemGyu Jaljayo Oppa, i’am really happy tonight because of you. Gomawo. Jeongmal gomawo-yo.

Tidak lama Jinki meretweet mention-ku: I’am sorry, i can’t protect you. Kau tidak pernah salah Yuna-yaRT@yuna0203

Ahh Jinki belum tidur jam segini, ah di Seoul sudah jam setengah empat pagi. Apa dia memikirkan masalahku. Ahh Jinki-ya jeongmal mianhaeyo. Aku mengganti piyamaku dengan celana training biru, kaos putih yang aku pakai saat dinner tadi lalu ku dobel dengan hoodie putih-ku. Aku keluar dari kamar untuk menenangkan hatiku yang makin gelisah. Aku menguncir rambutku, lalu ku tutup kepalaku dengan tudung hoodie, aku memakai headset doraemon-ku dan mengalunlah Sapphire Blue dari ipod-ku. Aku merasa tenang mendengar lagu-lagu Super Junior. Aku masuk lift dan menekan tombol G. Sampai di lantai dasar mataku mengarah ke cafe, sapa tau saja member-member super junior ada disana. Namun hasilnya nihil. Ahh mereka kan sangat lelah seharian ini, belum lagi besok. Mereka pasti sangat capek.

Kemudian aku mengirim mention kepada oppadeul: Oppadeul @GaemGyu @special1004 @Heedictator @shfly3424 @ShinFriends @AllRiseSilver @donghae861015 @siwon407 @ryeong9 and Sungmin Oppa, please keep u r healty, jadwal kalian sangat padat kalian harus makan banyak agar bisa memberi semangat pada elf yang mencintai kalian. Fighting!!!

Aku tersenyum saat melewati meja resepsionis, lalu aku putuskan untuk duduk di bangku taman sambil melihat lampu-lampu berbentuk lollipop yang berwarna-warni itu. Aku membayangkan andai saja itu benar-benar permen lollipop sungguhan, pasti aku sudah menjilatnya. Heheheheehe. Aku tertawa kecil menertawai imajinasiku barusan.

Lagu Thank You mengalir lembut mengiringi lamunanku. Lamunanku mengenai perjuanganku bisa sampai disini, bisa duduk di bangku taman ini. Semuanya berkelebat di benakku. Ahh terima kasih Appa dan Umma yang sudah membesarkanku dengan kasih sayang kalian, ahh aku bukanlah anak yang baik, aku selalu saja merepotkan kalian, membuat kalian susah. Air mata mulai menggenangi pelupuk mataku. Aku juga mengingat bagaimana ekspresi Appa yang panik luar biasa saat mengetahui kaki kanan anaknya ini patah, ekpresi Appa yang marah bercampur kesedihan saat melihatku terbaring lemas di rumah sakit dengan perban mengelilingi kepalaku pasca kecelakaan menyeramkan itu, ekspresi Appa yang sangat bahagia saat aku bisa lulus dari SMA dengan nilai bagus dan lolos tes seleksi Kyunghee University, semua ekspresi appa bercampur jadi satu dalam ingatanku. Aliran hangat air mataku terasa di pipiku.

Aku juga ingat Umma, Umma jauh lebih lembut padaku, pada saat marah padaku pun dia masih memanggilku sayang, hanya Umma yang bisa menenangkan aku dan Appa, hanya Umma yang bisa meredakan kemarahan aku dan Appa. Waktu Appa akan marah padaku karena aku menonton Sushow 1 dan mengakibatkan aku dirawat di rumah sakit, hanya Umma yang bisa meredakan kemarahan Appa. Aku juga ingat saat aku pulang dari rumah sakit pasca aku kecelakaan februari 2008 lalu, sudah 3 minggu aku berada di rumah sakit. Saat aku pulang dan masuk kamarku, aku melihat kamarku yang sebelumnya dindingnya dipenuhi poster super junior menjadi putih bersih, tumpukan kaset yang aku taruh di meja belajar juga tidak ada. Saat aku menanyakan pada Umma, Umma hanya tertunduk. Aku langsung lari ke ruang tamu dan melihat Appa sedang menonton TV. Aku langsung menanyakan dimana poster, kaset dan seluruh barang-barang yang berhubungan dengan super junior. Appa hanya menjawab pelan “Sudah Appa musnahkan”. Jawaban Appa kontan membuatku berang, aku mengamuk dan menjatuhkan piring dan gelas di dapur. Aku menangis histeris, kecewa sakit hati bercampur jadi satu. Appa siap memarahiku kalau Umma tidak menyuruh Appa diam dan masuk ke kamarnya, Umma yang memelukku dan menenangkan aku. Ahh Umma, aku benar-benar menyayanginya, dia adalah Umma terbaik di seluruh Dunia. Ahh Gomawo Umma.

Lagu Good Person kemudian mengalun dari ipod-ku. Lee Jinki, namja yang lahir beberapa bulan lebih dulu dariku itu adalah sahabat pertamaku di bangku kuliah, dia adalah sosok sahabat sekaligus kakak bagiku. Sudah banyak pergorbanan yang diberikan Jinki padaku, bahkan dia sampai membohongi Appa-ku yang sudah dia anggap sebagai Appa-nya sendiri, demi menolongku, demi melindungiku. Jinki-ya aku benar-benar sangat beruntung bertemu denganmu, beruntung mengenalmu, beruntung membawamu ke dalam keluargaku, beruntung kau masuk didalam kehidupanku. Aku menghapus air mata yang mengalir di pipiku.

Super Junior, aku tidak tau harus mengatakan apa saat kata Super Junior terlintas dalam benakku. Hanya 2 kata saja yaitu Super Junior, tapi beribu-ribu kejadian melintasi benakku, ada tawa, ada senyum , ada tangis, ada amarah saat aku mengingat Super Junior. Beribu-ribu ekspresi bisa kutunjukkan pada 13 orang itu. Yaa aku selalu menganggap Super Junior ber 13, karena 13 adalah Super Junior. My All is In You kemudian melantun merdu memenuhi ruang dengarku. Super Junior telah menjadi bagian dalam hidupku. I can’t live without you my all is in you…

Air mataku kembali mengalir deras, aku sudah sesenggukan. Appa, Umma, Jinki dan Super Junior melintas berbaur jadi satu dalam ingatanku. Aku menyayangi mereka semua, mereka adalah orang-orang yang menjadi bagian dalam hidup seorang Choi Yuna. Aku mengatupkan kedua tanganku di wajahku. Andai saja semuanya berdamai tentu tidak begini akhirnya. Luka di keningku berdenyut-denyut lagi. Perih. Handphone-ku tiba bergetar di saku trainingku. Aku mengambil dan melihat layarnya Jisun Calling… Aku melepas headset-ku.

“Yeoboseyo” ucapku pelan.

“Kau dimana Unnie??”

“Aku hanya ingin sendiri, Jisun-ah”

“Aku bisa menemanimu jika kau mau”

“Tidak perlu, aku hanya ingin sendirian saja”

“Aku khawatir kau akan melakukan hal yang tidak-tidak”

“Mwo?? Aku tidak sebodoh itu Jisun-ah, kau tenang saja”

“Ne. Habis itu kau segera kembali ke kamar ya, ini sudah hampir jam 4 pagi”

“Ne Jisun-ah”

Aku menutup telepon dari Jisun, baru beberapa menit handphone-ku bergetar lagi.

Jinki Calling…

“Yeoboseyo”

“Kau belum tidur Yuna-ya??”

“Kau pikir aku bisa tidur dalam keadaan seperti ini. Kau sendiri tumben sudah bangun, di sana masih jam 6 kan??”

“Kau pikir aku bisa tidur dalam keadaan seperti ini hah??”

“Ah Jinki-ya kau menggunanakan kata-kataku”

“Kau belum mematenkannya kan?”

“Hahahaaha kau ini” Mau tidak mau aku tertawa mendengar lelucon garingnya itu.

“Appa dan Umma sudah menghubungimu??” Tanyanya kembali.

“Terakhir kali sekitar 4 jam yang lalu” ucapku lirih.

“Sebentar lagi mereka tiba di Bangkok. What should u do ??”

“Molla, aku bingung. Sepertinya untuk kali ini aku benar-benar menyerah Jinki-ya, aku sudah tidak sanggup lagi”

“Hey ini pertama kalinya aku mendengar kau mengatakan itu padaku. Kemana perginya Super Juniormu itu hah??”

“hufftt”

“Dengar ya Yuna, aku memang menginginkan agar kau tidak bertengkar dengan orang tuamu lagi tapi aku tidak mau kau menyerah begitu saja. Tau kenapa aku selalu membantumu setiap kau ingin menonton penampilan Suju??”

“Molla”

“Itu karena Super Junior bisa membuatmu tersenyum, bisa membuatmu bahagia, bisa membuatmu bangkit dan tidak pernah menyerah. Karena itulah aku mau membantu dirimu dan membohongi Appa dan Umma-mu”

Aku terdiam mendengar kata-kata Jinki.

“Kalau kau menyerah begitu, aku tidak akan membantumu lagi, aku tidak akan membelamu lagi dan aku akan mendukung 100% kedua orang tuamu untuk menjauhkanmu dari super Junior”

“Jinki-ya…”

“Dan kau tau Super Junior akan sangat kecewa mengetahui bahwa salah satu fans sejatinya mundur menjadi seorang elf, dan Super Junior tidak akan bersinar lagi saat elf seperti kau meninggalkan mereka”

Aku menangis. Kata-kata Jinki menusuk relung hatiku. Kata-kata Jinki sangat bermakna. Tiba-tiba aku merasa malu pada diriku sendiri.

“Jinki-ya gomawo, jeongmal gomawo. Mianheyo, jeongmal mianhaeyo” aku mulai terisak.

“Sekarang semuanya ada pada dirimu sendiri Yuna-ya, kau sendiri yang akan memutuskan untuk terus maju atau menyerah”

“Ne, Jinki-ya gomawo”

Aku termenung mendengar kata-kata Jinki, aku hampir berniat menyerah. Padahal seumur hidupku aku tidak pernah mengucapkan kata itu. Aku selalu bersemangat. Ahh aku ingin terus maju, tapi cengkeraman Appa sangat besar dalam hidupku.

Aku bangun dari tempatku duduk dan berjalan gontai menuju lift. Aku menekan tombol 15. Pikiranku benar-benar sangat kacau. Aku menekan tombol pengaman pada pintu kamar dan masuk kedalam, aku melihat Jisun sudah kembali tertidur. Aku menuju lemari, mengambil koperku dan membukanya. Kemudian mataku tertuju pada kotak berukuran sedang berwarna sapphire blue dan bermotif chibi-chibi Super Junior. Aku mengambil kotak itu sambil tersenyum dan membukanya, aku melihat 12 pin gloss berwarna biru bergambar chibi-chibi Super Junior. Semua chibi itu menunjukkan ekspresi yang sangat lucu. Aku mengambilnya 1 persatu.

Ah yang ini chibi Yesung Oppa dia berusaha membulatkan matanya yang sipit. Aku tertawa. Kangin Oppa, aku rindu pada sosok si bongsor yang satu ini sudah setengah tahun dia memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang baik. Ah yang ini Heechul Oppa, di pin Heechul Oppa bukan chibi-nya sendiri melainkan gambar karakternya yang dia pake di twitter hanya saja desainnya hampir menyerupai Lady Gaga. Aku tertawa melihat pin Heechul Oppa, pipinya merah dengan rambut berwarna kuning. Lady HeeHee. Kemudian aku mengambil pin Sungmin oppa, aku melihat pin bergambar chibi-nya yang memegang lollipop dengan rambut berwarna pink. Aku mengambil pin berikutnya, Ryeowook oppa, chibi-nya tertawa lebar sambil membawa sepiring makanan di tangannya dan Topi koki di kepalanya. Aku ingin dimasakkan olehmu Oppa. Kemudian aku mengambil pin Leeteuk Oppa, chibi-nya berambut pirang, sedang tersenyum sehingga ada sebentuk lesung di pinggir bibirnya. Kau seorang leader yang hebat oppa. Andai saja kau ingat aku lah yang kau jenguk 3 tahun lalu saat aku terbaring koma di rumah sakit. Eunhyuk Oppa, chibi-nya menunjukkan dia sedang menari dengan baju yang terbuka, aku ingat dengan MV No Other. Berikutnya, Hangeng Oppa chibi-nya menunjukkan dia yang kebingungan dan di atasnya ada huruf hangul. Aku benar-benar shock saat Hangeng oppa memutuskan untuk meninggalkan Super Junior. Kemudian pin Donghae Oppa, chibi-nya dia mengedipkan matanya dan di mulutnya dia mengigit setangkai mawar. Sambil menepuk kedua tangannya disamping. Sudah 3 video klip pria mokpo ini menggunakan mawar sebagai senjatanya, Bonamana, No Other dan Firefly-nya Ariel Lin. Pin berikutnya, hemm aku mengambil dari dalam kotak dan melihatnya, ahh Siwon Oppa chibi-nya menunjukkan dia sedang mengangkat barbel sambil menunjukkan otot-ototnya. Hanya dia yang mempunyai bentuk tubuh paling bagus. Kemudian, hemm Shindong Oppa, chibi-nya menunjukkan dia sedang siaran radio dengan rambutnya yang kubuat ikal bergelombang pirang. Dan yang terakhir Kibum Oppa, chibi-nya dia sedang memegang selembar kertas di masing-masing tangannya menunjukkan dia sedang menghafal skenario drama. Ahh dia member yang termasuk sering absen di setiap pernampilan Super Junior, aku rindu dengan si smile killer ini.

Kurang satu lagi kan?? Aku berjalan ke meja, meraih tas ku dan ku lihat ada sebuah pin di tali tas itu, ini adalah pin Kyuhyun Oppa, di pin-nya dia sedang memainkan game di laptopnya dan di atas kepalanya ada bando berbentuk evil. Aku tertawa lebar melihat chibi Kyuhyun Oppa ini, kemudian ingatanku melayang kejadian saat di Cafe dan saat Dinner semalam. Aku meletakkan tasku dan menuju koperku, aku menaruh kembali pin-pin yang berserakan di lantai dan aku masukkan kembali ke dalam kotak dan kututup. Kapan aku bisa menyerahkan hadiah ini???

Handphone-ku bergetar. Appa Calling…

“Yeoboseyo” ucapku pelan.

“Appa barusan tiba di bandara Bangkok dan akan langsung ke hotel. Sebaiknya kau segera berkemas Yuna”

“Ne Appa” ucapku patuh.

Aku melihat jam di dinding kamar 04.20. Aku mengemasi pakaian dan menatanya di dalam koper. Apa aku harus menyerah?

“Unnie” suara Jisun membuatku tersentak.

Aku menghapus air mataku.

“Kau sedang apa Unnie ??”

“Appa-ku sudah sampai di Bangkok, aku akan pulang sekarang”

Jisun menghampiri dan memegang pundakku.

“Kau yakin mau pulang sekarang Unnie ??”

Aku menggeleng “Tapi aku harus pulang Jisun-ah, Appa tidak akan mengizinkan aku lebih lama lagi disini”

“Unnie-ya jangan menyerah, kau masih bisa kan berbicara dengan appa-mu lagi??”

Aku menggeleng lagi “Appa-ku orang yang sangat keras, sama denganku dan kau tau kan kalau keras sama keras pada akhirnya akan pecah, dan aku tidak mau jika itu terjadi, lebih baik aku saja yang mengalah” ucapku lirih.

“Kau benar-benar akan menyerah Unnie ??”

“Aku belum menyerah Jisun-ah, aku hanya mengalah dan mengalah belum tentu kalah”

Jisun memelukku erat “Unnie-ya, aku panggilkan Nara Unnie ya??”

Aku mengangguk pelan.

Ya aku tidak akan menyerah, aku hanya mengalah. Aku hanya ingin mengalah dari Appa sekali ini saja. Aku tidak sanggup melawan kerasnya Appa, Umma pun sangat mendukung Appa.

“Yuna” suara Nara Unnie memanggilku.

Aku menoleh dan tersenyum kecil.

“Kau benar akan pulang sekarang?? Tidak bisa menunggu semalam saja kah??”

“Iya Unnie, Appa-ku sebentar lagi akan tiba di hotel untuk menjemputku” ucapku pelan. “Aku juga minta maaf atas surat pernyataan itu Unnie, aku membuat dan menandatanganinya sendiri” lanjutku.

“Biarkan aku dan Junghoo yang akan bicara dengan Orang tuamu”

“Appa-ku sangat keras Unnie, hanya Umma yang bisa meluluhkan dia, tapi untuk masalah ini Umma 100% mendukung Appa”

Nara Unnie kemudian memelukku.

“Kau benar-benar seorang yang kuat Yuna, Super Junior memang beruntung memilki fans sepertimu”

“Gomawo Unnie” Aku melepaskan pelukan Nara Unnie.

“Ah ya Yuna, aku sudah memberikan surat-surat yang kalian tulis waktu itu kepada Super Junior dan aku pastikan mereka akan membacanya, dan mereka akan tau perjuanganmu Yuna”

“Jinjja Unnie ??” Aku merasakan diriku menjadi semangat mendengar pernyataan Nara Unnie barusan.

Nara Unnie mengangguk.

Handphone-ku bergetar Appa Calling…

“Appa sudah ada di ballroom, turunlah”

“Ne Appa”

Aku melihat Nara Unnie, Jisun dan Ah Wei yang baru bangun. “Appa-ku sudah di bawa, aku akan bicara dengannya. Setidaknya aku harus berusaha kan??”

Aku berjalan pelan menuju lift. Yaa aku harus berusaha, walau harapannya tidak ada. Sampai di lantai dasar aku melihat sosok Appa dan Umma sedang duduk di salah satu sofa di ballroom. Aku mendekat.

“Mana kopermu ?!!” Tanya Appa begitu melihatku.

“Masih di atas Appa”

“Cepat ambil, kita langsung ke Bandara sekarang” perintah Appa.

“Appa…. jebal”

“Yuna-ya Appa lelah sekali, jangan membuat Appa marah, ambil kopermu sekarang!”

“Appa sekali ini saja, kumohon. Setelah itu aku akan patuh pada perintah Appa. Appa menyuruhku belajar, aku akan belajar, Appa menyuruhku membakar semua barang-barang super junior-ku, aku akan melakukannya, aku tidak akan melawanmu lagi. Tapi aku mohon biarkan aku semalam disini…” ucapku lirih.

“Yuna sayang, Umma mohon padamu, jangan membuat Appa marah. Kau tidak perlu melakukan hal itu asal kau pulang sekarang”

“Umma, aku mohon….. dengarkan aku sekali ini saja”

“Yuna, kau benar-benar membuat Appa emosi” Suara Appa mulai meninggi.

Aku langsung berlutut di depan Appa “Appa aku mohon… aku sudah 20 tahun Appa, aku juga ingin di dengar oleh Appa”

“Apa yang kau lakukan ini bukanlah hal yang pantas dilakukan seorang berumur 20 tahun seperti yang kau katakan. Bangunlah. Dan ambil kopermu sekarang!!”

“Sebegitunyakah Appa dan Umma tidak mempercayai aku lagi ??”

“Yuna, Appa benar-benar lelah. Appa dan Umma-mu belum sempat tidur dari Jepang, sampai di rumah kami mendapatimu tidak ada di rumah dan kau pergi ke Bangkok untuk menonton super junior. Kau membohongi kami. Appa benar-benar kecewa padamu” suara Appa bergetar.

Aku melihat mata Appa “Appa aku mohon… sekali ini saja biarkan aku menonton konser super junior. For the last in my life Appa…” Air mataku mengalir di pipiku.

“Yuna, Appa sangat lelah. Ambil kopermu dan jangan banyak bicara lagi. Ah keningmu kenapa??” Appa menyibak poniku.

“Anio, tidak apa-apa aku hanya terjatuh di kamar mandi”

“Yuna-ya kau lihat kan , kau sudah celaka. Pulanglah” Suara Umma cemas.

“Semua itu karena super junior-mu kan maka kau bisa terjatuh??!!” Appa benar-benar marah.

“Appa-ya aku yang lalai, aku yang jatuh. Super Junior sama sekali tidak ada hubungannya”

“Jelas ada Yuna, Kau disini karena mereka kan???”

“Yuna dengar, kami sudah sangat lelah. Kalau kau masih sayang pada kami maka patuhilah kata Appa-mu” ucapan Umma membuatku diam.

Aku melihat wajah Appa dan Umma bergantian. Yaa wajah mereka sangat lelah.

“Aku akan mengambil koperku” ucapku pelan dan berjalan meninggalkan ballroom.

Yaa Choi Yuna kau sudah kalah sekarang. Kau tidak akan pernah bisa melawan perintah orang tuamu. Aku menangis sesenggukan di dalam lift. Aku memang kalah, aku tidak bisa berjuang lagi. Oppadeul, tolong aku…..

Pintu lift terbuka. Aku berjalan gontai menuju kamarku. Aku kaget saat melihat pintu kamarku terbuka, dan aku melihat ada mereka, yaa Oppadeul-ku ada di dalam kamarku. Mereka melihatku dan tersenyum.

“Oppa…”

Flashback 4 jam lalu

Pukul 00.30

Author POV

“Yesung-ssi” Panggil Nara.

“Ne. Waeyo Nara-ssi ??”

“Ini kumpulan tulisan-tulisan tentang kalian dari pemenang undian kpop magz” Ucap Nara sambil menyerahkan amplop besar berwarna coklat.

“Oh, ne. Kamsahamnida Nara-ssi”

“Beberapa tulisan sudah ku terjemahkan dengan hangul agar kalian bisa membacanya”

“Ne, kami akan membacanya Nara-ssi”

“Kamsahamnida Yesung-ssi”

Yesung mengangguk dan berjalan masuk ke dalam kamar hotel. Yesung meletakkan amplop coklat itu di atas meja di samping tumpukan kertas-kertas lain dan laptop anak-anak super junior.

“Aigoo aku sangat capek” Yesung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan tidur disamping Eunhyuk yang sudah tertidur pulas.

“Ahh aku tidak bisa tidur, padahal badanku lelah sekali, lebih baik aku merefreshingkan otakku” Kyuhyun bangun dari ranjangnya, menuju meja dan menyalakan laptop. Kyuhyun sudah asyik dengan permainan starcraft-nya.

“Ahh aku haus” Kyuhyun mengambil botol air minum dari meja dan menyenggol amplop coklat.

“Aihh apa ini? skenario milik siapa? Ah ini bukan skenario, ada tulisan kpop magazine didepan” Kyuhyun penasaran dan membuka amplop itu.

“Tuliskan pengalamanmu selama mengenal Super Junior” Kyuhyun membaca tulisan pada kertas pertama. Ini pasti elf yang menulisnya.

Kyuhyun terus membaca tulisan-tulisan sampai dia berhenti, pada kertas yang ujungnya ditulis nama seseorang ‘Choi Yuna’. Ahh apa ini milik gadis itu?

Kyuhyun membaca tulisan itu dan menitikkan air matanya. Aku tidak menyangka perjuangan dia begitu berat bisa sampai disini.

“Hyung.. Leeteuk Hyung” Kyuhyun mengguncang tubuh Leeteuk.

“Aiisshh kenapa kau hah?? Aku mengantuk. Sebaiknya kau hentikan kebiasaan mu nge-game itu dan segera tidur, hari ini adalah hari yang melelahkan, besok juga” Leeteuk Hyung terus berbicara dengan mata yang masih mengantuk.

“Hyung-ah bukannya kau dari tadi menanyakan kepada kita semua, apa pernah mengenal gadis yang tadi duduk disampingku kan?”

“Ne, waeyo?? Kita bicarakan besok saja. Aku mengantuk Kyuhyun-ah”

“Kau ingatkan dulu pernah menjenguk seorang elf yang koma karena kecelakaan??”

“Waeyo??”

“Nah gadis itu yang kau tanyakan terus dialah orangnya, dialah yang kau jenguk beberapa tahun lalu Hyung” Leeteuk bangun dari posisi tidurnya dan duduk menghadap ke dongsaeng terkecilnya itu.

“Namanya Choi Yuna, dia elf yang kakinya pernah patah saat menghadiri fanmeet kita pada tahun 2007 lalu dan dia juga elf yang mengalami kecelakaan saat konser sushow perdana kita di seoul”

“Aigoo pantas saja aku seperti pernah melihatnya, ahh ternyata dia yang ku jenguk waktu itu” Leeteuk menepuk keningnya.

“Dan kau tau Hyung tadi saat dinner dia mengatakan ‘Help Me, Oppa’ padaku tadi, aku tidak tau maksudnya. Yang kulihat dari matanya dia memang sedang membutuhkan bantuan”

Bounce to you, Bounce to you nae gaseumeun neol hyanghae jabhil sudo eobseul mankeum dwigeo ittneungeol Break it Down to you, Down to you nae gaseumi neo

“Yeoboseyo Hyung” Leeteuk mengangkat telepon dari Kibum Hyung.

“Ne, eeteuk-ah tadi Nara dari kpop magz menghubungiku, bisakah kau dan yang lainnya menemui seseorang yang benar-benar sangat ingin bertemu dengan kalian??”

Flashback end

Pukul 04.45

Yuna POV

Aku berjalan gontai menuju kamar untuk mengambil koperku, aku sangat kaget melihat mereka ada di kamarku, mereka yang sangat aku idolakan berada di kamar seorang fans-nya.

“Oppa…” ucapku saat melihat oppadeul di dalam kamar.

“Ahh ternyata kau orangnya, Eeteuk Hyung cerewet sekali menanyai kami semua tentang dirimu semalam” Suara Eunhyuk Hyung memecah kesunyian.

“Ah ne oppa, akulah yang kau tengok beberapa tahun lalu, aku sangat payah sehingga tidak bisa melihat oppa pada waktu itu”

“Dan sekarang kau sudah benar-benar melihat kami secara langsung kan? Mimpimu sudah terwujud Yuna” Ucapan Kyuhyun oppa membuat air mata mengaburkan pandanganku.

“Aku sangat terharu sekali membaca tulisanmu, kau membuat Donghae Hyung menangis” kata Ryeowook oppa.

“Aiisshh kau juga kan” balas Donghae pada dongsaengnya.

Aku tersenyum senang melihat mereka semua ada di depanku, melihatku dan tersenyum benar-benar hanya untukku. Ini merupakan puncak kebahagiaanku. Aku benar-benar menemui kebahagiaanku. 5 tahun aku berjuang tanpa menyerah dan sekarang aku menuai hasilnya. Aku sudah tidak dapat menggambarkan bagaimana perasaanku sekarang. Hanya air mata bahagia yang mengalir dipipiku.

“Kau benar akan balik ke Seoul sekarang ?” suara Heechul oppa membuyarkan lamunanku.

“Mianhae oppadeul, aku tidak bisa datang ke fanmeet dan konser kalian hari ini. Mianhaeyo, jeongmal mianhaeyo. Aku bukan seorang fans yang baik yang meninggalkan konser idolanya” Aku membungkukkan badanku pada oppadeul semua.

“Kau ini elf yang sangat luar biasa, Yuna. Kami bangga mempunyai elf sepertimu” kata-kata Siwon Hyung membuat air mataku tumpah semakin deras.

Tiba-tiba Kyuhyun mendekatiku dan memelukku. Huaaa oomeeiigoott Cho Kyuhyun memeluk seseorang sepertiku. Aku benar-benar tidak menyangka.

“Kau ingin memeluk kami semua kan ?? Impianmu sudah kami wujudkan. Apalagi yang kau inginkan??” suara Kyuhyun oppa di telingaku.

Aku masih membisu didalam pelukan Cho Kyuhyun. Aku sudah tidak tau lagi harus mengatakan apa. Tapi tiba-tiba aku ingat hadiahku. Aku melepas pelukan Kyuhyun, berjalan ke arah koperku dan membukanya.

“Ada yang ingin kuberikan pada kalian semua” ucapku menghapus air mataku sambil memegang kotak berwarna biru. Aku membuka kotak itu dan mengambil pin itu satu persatu.

“Ahh yang ini pin untuk Heechul Hyung” Aku mendekat ke arah Heechul Hyung.

Aku menyematkan pin itu di kaos Heechul “Pin ini aku desain sendiri untuk kalian semua Oppa, dan pin Lady HeeHee spesial untukmu oppa”

Heechul oppa tersenyum dan memelukku erat. “Gomawo Yuna” ucap Heechul sambil memberikan wink padaku.

Aku mengambil pin berikutnya dan kusematkan di dada oppadeul yang lainnya.

“Ah yaa Leeteuk oppa mana ?” Tanyaku kemudian saat aku memegang pin Leeteuk oppa.

“Dia ada sedikit urusan, nanti juga kesini. Mana pin untukku ??” Kyuhyun melirik kesal karena tidak mendapat bagiannya sedangkan Hyungnya yang lain sudah mendapat pin dariku.

“Ahh yaa aku hampir melupakan kau oppa” ucapku tersenyum. Aku mengambil tas ranselku dan mengambil pin di tali tas.

“Aku selalu memakai pin ini kemanapun aku pergi, makanya aku minta maaf jika warnanya sedikit agak pudar Oppa” ucapku sambil menyematkan pin di baju Kyuhyun oppa.

“Ahh kau membuatku iri Cho Kyuhyun” Suara Eunhyuk merecoki suasana.

“Gomawo Yuna” Kyuhyun kembali memelukku dan mengecup ujung kepalaku. Huaa aku merasakan kakiku gemetaran dan sebentar lagi aku pasti akan meleleh. Aku merasakan wajahku panas dan mungkin sekarang bersemu merah.

“Gomawo Oppa” ucapku sambil melepas pelukan dari Kyuhyun. “Ah ya oppa, aku membuat pin ini berjumlah 13 buah, karena bagiku super junior tetap 13 orang, karena 13 orang itulah yang membuatku bisa tetap tegar, jadi aku mohon tolong simpan pin untuk Kibum, Hankyung dan Kangin Oppa, jika oppa bertemu mereka berikanlah kepada mereka. Dan pin untuk Leeteuk oppa tolong kau kasih padanya ya Oppa, aku tidak bisa memberikan langsung padanya” ucapku sambil menyerahkan kotak biru itu pada Kyuhyun Oppa.

“Ne, aku pasti menjaganya” ucap Kyuhyun Oppa sambil memegang kepalaku.

Aku benar-benar bahagia sekarang semua impianku terwujud hanya dalam 1 hari, aku mulai merasakan sedikit pusing. Aku sekarang berada didalam lift bersama Jisun yang mengantarku kebawah.

Aku berjalan menyeret koperku dengan sedikit malas menuju ballroom. Ya sudah bisa di pastikan aku tidak bisa menonton konser sushow malam ini. Aku melihat kedua orangtuaku sedang berbicara dengan dua orang, yang satunya berambut coklat kemerahan dan yang satunya lagi memakai kacamata. Aku tidak begitu jelas melihatnya. Aku merasakan kepalaku kembali berdenyut kencang, belum lagi luka di keningku semakin perih.

“Unnie kau tidak apa-apa ?? Wajahmu pucat” Tanya Jisun sambil memegang lenganku.

“Anio, aku tidak apa-apa, hanya luka di keningku sedikit perih” ucapku menjawab pertanyaan Jisun.

Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah. Aku akan menunjukkan pada orang tuaku kalau aku bukanlah gadis yang lemah. Aku berjalan mendekati ballroom dan ternyata yang berbicara dengan kedua orang tuaku adalah Junghoo Hyung dan Leeteuk Oppa.

“Oppa” ucapku pada Leeteuk Oppa

“Mianhaeyo Yuna aku baru bisa mengenalimu sekarang” Ucap Leeteuk Oppa.

“Ne, Oppa tidak apa-apa”

Leeteuk Oppa kemudian memelukku dan berkata “gomawo kau sudah mendukung kami sampai sekarang, aku benar-benar beruntung pernah bertemu dan mengenal dirimu Yuna-ya, jeongmal Gomawo”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum menatap wajah leader Super Junior itu.

“Ayo Yuna, kita pergi” Appa langsung pergi dengan membawa koperku.

“Ayo sayang” Umma menggandengku meninggalkan ballroom hotel.

TBC

Give advice and comment ya.

Gomawo.

Ini part yang paling panjang, karena next part adalah part terakhir fanfic The Journey to Meet My Happiness. Nah di part terakhir nanti author akan membuat 2 versi akhir cerita perjalanan Choi Yuna. Kasih saran dan komentar  kalian mengenai ending-endingnya yaa..

7 thoughts on “[fanfic] The Journey to Meet My Happiness Part 7

  1. Yuna Oh Yuna.. kau pantas mendapatkan semua hug dan kissue dari oppadeul.. *sigh

    Leeteuk oppa… ntah brp kali aku memujimu.. sprtinya tak kan cukup.. ahhhh best leader pokokx…

    Kyu… Q juga mau dipeyukkkkkkkk #plakkkk

    Donghae oppa.. biarkan aku yg menghapus air matamu *geje

  2. >bajigur.. kao berhasil menaik turunkan emosionalku yuna-ya!!awalnya masi bisa tahanpi pas km sebut 13 13 13 13 13 dan 13, dan menuju sebutan pin untuk kangin oppa, apalagi hankyung, aku gak tahan,sumpah lagu2nya jugaseriusan ne ff klo yg baca elf pasti juga ngrasain hal yg sama kek qasli speechless…….. :')

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s