[fanfic] The Journey to Meet My Happiness Last Part (Ver. 1)

Makasih chingdeul yang udah ngikutin fanfic ini dari prolog ampe part terakhir. Di part terakhir ini, ada sedikit surprise yaitu author membuat 2 versi. Sebenarnya sama aja sih intinya, tapi ada yang sedikit berbeda. Dan ini adalah versi pertamanya. Tetap kasih komentar yaa di masing-masing versi…

Song: Shining Star
Yuna POV

“Ayo Sayang” Umma menggandengku meninggalkan ballroom hotel.

“Sebentar Umma, aku mau pamit pada temanku” ucapku pada Umma.

Aku kemudian berbalik dan berjalan menuju Jisun yang masih menatapku. Aku merasakan kepalaku berdenyut semakin kencang.

“Jisun-ah gomawo, jeongmal gomawo kau sudah banyak membantuku” Jisun memelukku.

“Ne, aku yang beruntung pernah mengenalmu, Unnie”

Aku melepaskan pelukan Jisun, kemudian menyusul Umma yang sudah menungguku. Appa sudah berada di lobi hotel dengan taksi yang akan membawa kami ke bandara.

Aku tidak berbicara didalam taksi, aku hanya memandang jendela dalam diam. Aku merasakan sakit pada kepalaku juga sakit dihatiku. Aku merasakan sangat amat sakit hati sampai aku tidak tau dengan apa nanti akan kusembuhkan. Yaa bayangkan saja kalian mencintai seseorang namun dipisahkan, dan tidak akan pernah bertemu lagi. Seperti itulah perasaanku sekarang.

Bandar Udara Suvarnabhumi

“Kita akan berangkat 1 jam lagi” kata Appa padaku dan Umma. Aku masih diam.

“Yuna, mengertilah keputusan kami, ini semua demi kebaikanmu. Percayalah ada atau tidak adanya Super Junior tidak akan ada yang berubah dalam hidupmu” suara Appa membuatku tersentak. Aku hanya menatap Appa. Ya Appa tidak ada yang berubah tapi pasti ada yang berbeda.

Aku melihat jam tanganku, pukul 06.00 pagi, pesawat yang membawa kami ke Seoul sudah lepas landas. Aku duduk di dekat jendela sedangkan Umma duduk disampingku dan Appa duduk di kursi sebelahnya. Aku memandang keluar jendela, hanya langit biru dan awan putih yang bisa kulihat. Aku merasakan kepalaku semakin sakit, belum lagi luka dikeningku semakin nyeri. Aku mencoba menutup mataku, tapi pikiranku tidak bisa tenang.

Bangkok. Aku tidak akan sedikitpun melupakan setiap hal yang kualami di kota ini, dari kejadian pertama di cafe, konser, dinner sampai moment saat aku menyerahkan hadiah pada Oppadeul. Hadiah yang kupersiapkan sendiri, aku mendesain semuanya sendiri dan aku lega bisa menyerahkannya kepada mereka. Namun tetap saja hatiku terasa perih. Hari ini ada fanmeet dan konser kedua mereka, tapi aku tidak bisa menghadirinya. Air mataku mulai mengalir dari sudut mataku. Ada lubang yang besar menganga di hatiku. Lubang yang aku tidak tau kapan aku bisa menutupnya. Tiba-tiba aku mengingat sahabatku, Lee Jinki. Ahh Appa dan Umma pasti membencinya. Cukup Appa dan Umma memisahkan aku dan Super Junior, dan aku tidak mau jika mereka melakukan hal yang sama pada Jinki.

“Umma…” aku memanggil Umma.

“Iya sayang”

“Umma masih marah pada Jinki ?” Tanyaku pelan.

“Umma hanya kecewa padanya”

“Umma, jangan pernah membencinya ya. Jinki ga salah apa-apa, aku yang membuat Jinki ikut terseret”

“Itu semua tergantung Appa-mu”

“Aku tau hanya Umma yang bisa meluluhkan Appa, Appa hanya mau mendengarkan Umma. Maka dari itu aku mohon pada Umma, bilang pada Appa jangan membenci Jinki, Jinki ga salah”

Umma terdiam.

“Umma, aku mohon…”

“Umma….. jebal” Pusing dikepalaku semakin hebat. Pandanganku semakin buram.

“Aku mohon pada Umma, jangan pernah membenci Jinki, hanya dia yang aku punya setelah Appa dan Umma”

Umma masih terdiam.

“Ini permintaanku yang terakhir kali Umma, jangan buat Jinki seperti Super Junior”

Umma tidak menjawabku.

“Terakhir Umma…..” suaraku makin lirih. Kepalaku terasa mau pecah. Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi, aku memejamkan mataku, aku hanya ingin tidur. Tidur dengan tenang.

Author POV

Umma menoleh pada Yuna, Yuna tertidur. Masih terlihat sisa aliran air mata di pipi Yuna. Umma menghapusnya pelan.

“Iya Yuna, Umma akan memaafkan Jinki” suara Umma pelan di telinga Yuna.

Pesawat Korean Airlines akan segera mendarat di Bandara Incheon, silahkan tegakkan kursi anda dan kencangkan sabuk pengaman anda.

Umma mendengar himbauan dari Pramugari. Umma menoleh pada Yuna yang masih tertidur.

“Yuna…” bisik Umma.

Yuna masih diam.

“Yuna, kita akan mendarat, bangunlah” Umma memegang pundak Yuna.

Yuna masih bergeming memejamkan matanya.

“Aigoo anak ini pasti sangat lelah, pulas sekali tidurnya” Umma menegakkan kursi Yuna dan mengencangkan seatbelt Yuna.

“Ayo Yuna, kita turun. Sudah sampai di Incheon sayang” Umma menyentuh bahu Yuna.

Yuna masih diam menutup matanya.

“Yuna-ya, ayo bangun” Umma mengguncang badan Yuna.

“Waeyo ??” Tanya Appa.

“Yuna tidurnya sangat pulas, yeobo”

“Dia pasti sangat lelah” Ucap Appa.

“Sayang, bangun” Umma menyentuh bahu Yuna dengan kuat.

Kepala Yuna tiba-tiba terkulai lemas. Dari keningnya yang diperban mengalir darah.

“Yeobo!!!” Panggil Umma pada Appa yang sedang mengambil barang-barang dibagasi atas.

“Ada apa ??”

“Yuna… Yuna tidak mau bangun yeobo, bagaimana ini ???” suara Umma terdengar cemas.

“Yuna…Yuna…. Bangun” Appa mengguncang bahu Yuna namun tidak ada reaksi dari putri semata wayangnya.

“Yuna…” Umma sudah menangis terisak melihat putri kesayangannya tidak merespon.

Awak pesawat langsung menghubungi pihak bandara untuk memanggil ambulans.

Di Rumah Sakit

“Yeobo, Yuna-ya…” Umma menangis di pelukan suaminya.

“Aku ingat perkataan terakhir Yuna tadi di pesawat” Lanjut Umma.

“Dia bilang apa ??” Tanya Appa.

“Yuna bilang jangan buat Jinki sama seperti Super Junior, Yuna bilang Jinki tidak salah, Yuna bilang jangan membenci Jinki, Yuna bilang……” Umma semakin terisak tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Appa hanya menghembuskan nafasnya mendengar kata-kata Istrinya. Ada rasa sesal yang merasuki Appa.

“Aku akan maafkan Jinki, asalkan Yuna membuka matanya lagi…” suara Appa terdengar lirih melihat putri semata wayangnya terbaring lemah. Tidak ada senyum dan tawanya.

3 Minggu kemudian

Yuna POV

Aku menjalani kehidupanku seperti biasanya. Ya benar kata Appa tidak ada yang berubah dalam hidupku, aku tetap bisa bernafas, makan, berjalan, tidur, kuliah. Tapi Appa tidak pernah tau, bahwa ada yang berbeda dari kehidupanku. Kehidupan Choi Yuna sekarang berbeda dari kehidupan Choi Yuna yang dulu. Itu yang Appa tidak pernah mengerti.

Tapi setidaknya ada satu yang tidak berubah, aku tetap sahabat Lee Jinki. Lee Jinki tetap memberi warna dalam hidupku. Lee Jinki lah yang bisa membuatku tersenyum lagi. Yaa seperti sekarang ini, aku sedang menunggu Jinki meminjam buku di perpustakaan kampus. Oiia hubungan Orang tuaku dan Jinki mulai membaik meski Appa masih belum bisa percaya lagi pada Jinki, tapi setidaknya Appa dan Umma sudah memaafkan Jinki. Ini semua karena permintaanku pada kedua orangtuaku agar tetap memberiku kesempatan tetap bersahabat dengan Jinki.

Sejak kejadian 3 minggu lalu itu, Appa mau memaafkan Jinki. Jinki sendiri masih segan saat bertemu dengan kedua orangtuaku.

“DORR!!!” Suara Jinki mengagetkanku.

“Yaa kau ini mau membunuhku !! aku kaget babo” ucapku sewot.

“Abis kau begitu asyik dengan lamunanmu, sampai tidak menyadari aku sudah duduk selama 10 menit disampingmu”

“Kenapa tidak memanggilku??”

“Aku suka melihatmu melamun, kau begitu asyik dengan duniamu”

Aku langsung menjitak kepala Jinki.

“Yaa sakit tau!!” protes Jinki.

“Biarin, weekk” kataku sambil menjulurkan lidahku.

“Kajja!!! Kita pulang” Ajak Jinki sambil merangkul pundakku.

Oh Baby say goodbye Oh jamsiman Goodbye annyeongiran maleun jamsi jeobeodulge jeo muneul yeolgoseo han geoleum naemilmyeon ko ggeuteuro jeonhaejineun neoui sumgyeol

Hape-ku berdering dari dalam tas ransel biru-ku. Aku mengambilnya dan melihat di layar Hapeku, Jisun Calling…

“Yeoboseyo” ucapku riang.

“Apa kabarmu Unnie ??” Sahut suara dari seberang.

“Baik Jisun-ah, waeyo ??”

“Kau punya waktu sekarang Unnie??”

“Ya, ada apa ??”

“Ada yang ingin kuberikan, kau bisa datang ke cafe Sapphire di daerah Paran Street??”

“Ohh baiklah, aku akan kesana bersama temanku”

Aku menutup handphone-ku dan menatap Jinki yang sedari tadi melihatku.

“Temani aku bertemu Jisun di cafe Sapphire”

Cafe Sapphire

“Unnie” Jisun antusias saat melihatku dan langsung memelukku.

“Oiia ini sahabatku Lee Jinki, kalian sudah pernah bertemu waktu di bandara kan??”

“Ne” ucap Jisun sambil tersenyum pada Jinki.

“Ada yang mau kuberikan padamu Unnie” Jisun mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkan padaku.

“CD ??” tanyaku heran.

“Hasil rekaman sushow hari kedua di Bangkok” jawab Jisun.

“Ohh” ucapku singkat.

“Kau tidak benar-benar melepas Super Junior kan ??” Tanya Jisun kembali.

“Terlalu berat melepaskan Super Junior, aku masih belum sanggup” Jawabku pelan.

“Kalau begitu tonton rekaman ini, maaf jika gambarnya bergoyang-goyang” Kata Jisun.

“Ahh Gomawo Jisun” ucapku sambil menatap Jisun.

“Ne, sama-sama Unnie”

*****

Sesampai dirumah Aku langsung menyalakan CD Player dan menyetel CD pemberian Jisun. Dan Jinki ikut menonton disampingku.

Gambar pertama yang muncul adalah stage super show Bangkok. Aku benar-benar deg-degan, aku merasakan euforia itu kembali. Aku tersenyum lebar saat lighting panggung diredupkan dan muncul VCR dilayar besar. Setelah itu kesepuluh member Super Junior muncul dari berbagai penjuru stage dan berkumpul di tengah stage dan mulai menyanyikan medley Remix Sorry Sorry, Bonamana disusul Super Girl, No Other dan Shake It Up.

“Jinki-ya” aku memanggil Jinki.

“Ne”

“Kau lihatkan apa yang mereka pakai di baju mereka”

“Wae??”

“Pin. Itu pin-ku. Itu hadiah yang aku berikan untuk mereka. Mereka memakainya dalam konser” Aku menarik-narik baju Jinki saking senangnya.

“Arraseo, kau tenanglah sedikit”

Aku benar-benar senang, hadiahku dipakai oleh 10 member Super Junior dalam konser mereka. Rasa bahagia menyelimuti diriku.

Aku terus menyaksikan rekaman konser dengan antusias, kadang aku tersenyum, tertawa dan menangis. Aku sangat merindukan mereka semua.

Beberapa jam kemudian, aku melihat Super Junior menggunakan kaos berwarna biru, mereka memakai atribut yang sangat lucu dan membuatku tersentak. Mereka memakai atribut persis seperti karakter chibi mereka. Heechul memakai wig berwarna kuning persis seperti Lady HeeHee di pin-ku, sungmin juga memakai wig berwarna Pink dan membawa Lollipop, Ryeowook Oppa memakai celemek bergambar makanan dan memakai topi Koki, Donghae membawa mawar di tangannya, Siwon membawa barbel-barbel mainan, Kyuhyun memakai bando berbentuk evil. Mereka menyanyikan lagu Sapphire Blue.

Aku benar-benar terharu melihat rekaman itu, aku melihat Oppadeul tersenyum riang sambil bernyanyi. Lagu itu benar-benar mereka tujukan kepada seluruh ELF yang selalu mendukung mereka. Air mataku mulai menggenangi pelupuk mataku.

Setelah lagu itu selesai, oppadeul berkumpul di tengah panggung, Leeteuk mulai membuka suara.

“Hemm Sawaddi Krab/Kha untuk elf yang selalu mendukung kami, yang selalu memberikan cinta kepada kami, kami bukan apa-apa jika tidak ada kalian, yaa karena super junior dan elf akan selalu berjalan bersama-sama selamanya

“Dan sekarang kami mau mengucapkan terima kasih kepada salah satu elf yang benar-benar menginspirasi kami, dia seorang elf yang tidak pernah menyerah, dia adalah elf yang kuat” Donghae menambahkan.

“Akan kita bacakan sedikit kisahnya untuk kalian semua” Leeteuk Oppa memegang sebuah kertas di tangan kanannya. Lagu Shining star mengalun lembut memenuhi stadion.

Tidak akan pernah ada kata menyerah dalam hidupku

Tidak akan pernah ada kata kalah dalam hidupku

Tidak akan pernah ada kata putus asa dalam hidupku

Donghae:

Aku tidak akan berhenti sampai aku bisa mewujudkan keinginanku, yaitu bertemu secara langsung dengan super junior. Secara langsung bukan dari kursi penonton ataupun dari pinggir jalan saat melihat mereka syuting. Aku ingin melihat mereka dan mereka juga melihatku. Yaa harapan yang sangat mustahil, tapi itulah keinginanku.

Sungmin:

Super Junior bukan hanya sebagai idolaku saja, tapi mereka adalah penyemangatku. Mereka motivatorku. Mereka segalanya bagiku. Saat aku mendengar lagu-lagu mereka, aku bisa merasa tenang, saat aku melihat mereka bahagia ataupun sedih, akupun ikut merasakan hal yang sama. Saat aku melihat mereka bernyanyi aku merasakan seperti mereka menyanyi untukku.

Eunhyuk:

Aku tidak pernah menyalahkan Super Junior saat kakiku patah setelah menghadiri fanmeet Super Junior awal 2007 , walaupun kedua orangtuaku menyalahkan Super Junior.

Yesung:

Aku tidak pernah membenci Super Junior saat aku koma karena kecelakaan sebelum menonton konser perdana Sushow 1 tahun 2008, walaupun kedua orangtuaku sangat membenci super junior.

Shindong:

Aku tidak pernah menyerah saat kedua orangtuaku mati-matian melarangku menonton setiap konser mereka, melarangku untuk membeli album mereka bahkan memusnahkan seluruh koleksi kaset dan poster Super Junior milikku.

Aku tidak pernah putus asa untuk meyakinkan kedua oarangtuaku bahwa Super Junior bukanlah penyebab anaknya mendapat musibah. Karena itu semua murni kecelakaan.

Heechul + Ryeowook:

Jika aku ingin menyerah aku bisa menyerah saat kakiku patah, jika aku ingin menyerah aku bisa menyerah saat aku koma, jika aku ingin menyerah aku bisa menyerah saat kedua orangtuaku memusnahkan seluruh poster dan kaset super junior yang kumiliki, jika aku ingin menyerah aku tidak mungkin bisa memenangkan kesempatan untuk menonton konser Super Junior di bangkok, dan jika aku ingin menyerah maka aku yakin semua mimpiku tidak akan pernah terwujud.

Kyuhyun:

Super Juniorlah yang membuatku bangkit. Super Juniorlah yang membuatku tidak pernah menyerah. Super Juniorlah yang membuatku terus maju. Super Juniorlah yang membuatku tersenyum. Karena super junior telah menjadi bagian dari hidup seorang Choi Yuna.

Siwon:

Dan aku sangat menyayangi mereka semua, sama seperti aku menyayangi kedua orangtuaku dan sahabatku…

Dan aku tidak pernah menyesal mengenal super junior. Tidak akan pernah….

Lagu Shining star kemudian mengalun lembut dari oppadeul.

shining star! like a little diamond, makes me love
nehgen ggoomgyul gateun dalkomhan misolo nal balabomyuh soksakyuhjwuh
hangsang hamggeh halgguhla til the end of time

oh! day by day hangsang neh gyutteh geudehga muhmooluh jwuh
stay in my heart noonbooshin shining my love

neul barago itjyo hangsang guhgi ehsuh ooseum jitgileul
ddeut moleul ohehwa iyoo ubneun mioomeh himi deuluhdo
duh muh gosseul bwayo ijeh shijak ijyo oolgo shippeul dden nehgeh gidehyo
boojok hajiman geudeul jikilgeh yo

sarangeun geuluhkeh chueum soon gan boottuh chajawa gajang gippeun gosseh nalawa nal ddeugub geh heh
byunhaji anneun ddullim geudehneun

shining star! like a little diamond, makes me love
nehgen ggoomgyul gateun dalkomhan misolo nal balabomyuh soksakyuhjwuh
hangsang hamggeh halgguhla til the end of time

shining star taeyang boda balga hessal gateun geudeh noobit cheun nehgeh hyooshikeul jwuh
jichyuh isseul dden neh mameul balkyuh jwuh promise midgilo heh unjedeun neh pyuni dweuh joolgeh
noogoo boda duh keun sarangeulo neh jakeun uhggeh gamssa joolgeh

sarangeun geuluhkeh chueum soon gan boottuh chajawa gajang gippeun gosseh nalawa nal ddeugub geh heh
byunhaji anneun ddullim geudehneun

“Choi Yuna terima kasih untuk cinta yang kau berikan kepada kami…” ucap Leeteuk.

“Jeongmal gomawo…”

shining star! like a little diamond, makes me love
nehgen ggoomgyul gateun dalkomhan misolo nal balabomyuh soksakyuhjwuh
hangsang hamggeh halgguhla

Air mataku sudah mengalir deras, aku sesenggukan. Aku sudah tidak tau lagi harus mengatakan apa. Speechless. Super Junior menyanyi untukku, aku masih menyaksikan oppadeul menyeleseikan reffrain Shining Star.

shining star! like a little diamond, makes me love
nehgen ggoomgyul gateun dalkomhan misolo nal balabomyuh soksakyuhjwuh
hangsang hamggeh halgguhla til the end of time

Jinki langsung memelukku.

“Kau lihat Jinki, mereka memakai pin-ku, mereka membaca tulisanku, mereka menyanyikan Shining star untukku dan mereka mengucapkan terima kasih padaku. Mereka melakukan itu di atas panggung super show Jinki-ya. Dan itu dilihat oleh semua orang. Ini bukan mimpi kan??” aku masih menangis di pelukan Jinki.

“Kau tidak mimpi Yuna, ini nyata” ucap Jinki sambil mengelus kepalaku.

“Oppa gomawo…..” ucapku terisak sambil melihat layar televisi. Kyuhyun Oppa menyeleseikan bait terakhir lagu.

hangsang hamggeh halgguhla til the end of time

“Andai Appa dan Umma melihat ini, Jinki-ah…..”

Author POV

Tanpa Yuna ketahui, Orang tua Yuna sudah pulang dari kerja. Dari arah ruang tamu Appa dan Umma bisa melihat layar televisi di ruang tengah, mereka melihat Super Junior membacakan surat dari putrinya dan menyanyikan lagu untuk putrinya. Dan juga Super Junior mengucapkan terima kasih untuk putri kesayangan mereka.

“Super Junior menyayangi Yuna juga, yeobo…..” ucap Umma Yuna sambil menghapus air matanya.

Super Junior, gomawo… ucap Appa dalam hati. Butiran air mata jatuh perlahan dari sudut mata Appa.

END

Huaa sampai juga ke akhir perjalanan Yuna dalam menemui kebahagiaannya. Ini ending versi pertama. Bagaimana menurut kalian ??

Give advice and comment.

Gomawo.

5 thoughts on “[fanfic] The Journey to Meet My Happiness Last Part (Ver. 1)

  1. Huweeeeee *srootttttt

    Nangis… mewek… baca part ini…
    Yunaaa… perjuanganmu sungguh panjang…
    Dan semua terbayarkan…

    Huwaaaaaaa *masih nangis* *tissue abis*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s