[fanfic][Oneshot] The Name I Loved

Song: The Name I Loved (SHINee Onew)

Genre: Sad Romance

Cast: Lee Jinki

Inspirasi ff ini datang dari salah satu scene MV Taeyang Wedding Dress dan mengalami sedikit penggubahan dari author.

Seoul, 23 Mei 2015

KRINGGGG!!!!!!

Tanganku menggerayangi meja di samping ranjangku untuk mematikan benda keramat yang sangat membantu orang-orang sepertiku yang susah bangun pagi. Aku melihat benda berwarna coklat berbentuk paha ayam yang menunjukkan jarum pendek di angka 6 dan jarum panjang di angka 15. Aku menggeliat pelan kemudian menyingkap selimut, bangun dan menuju kamar mandi.

Aku membuka lemari pakaianku dan mengambil setelan tuxedo berwarna hitam. Aku tersenyum kecil melihat diriku di kaca mematut tuxedo hitam di tubuhku. Tampan.

Dddrrtttttt dddrrrttttt drrrtttttt…..

Aku mengambil I-phone putih yang masih berputar pelan di atas meja.

1 message received.

Jinki-ya, jangan sampai terlambat atau kau akan menyesal nantinya. Ini hari yang sangat kutunggu-tunggu dalam hidupku.

Aku tertawa singkat membaca isi sms itu. Tidak akan. Aku tidak akan terlambat di hari yang sangat spesial ini.

Perfecto. Aku melihat diriku sekali lagi di depan cermin. Tuxedo hitam ini sangat pas di tubuhku. Dia memang sangat pintar memilihkan pakaian untukku dan sekarang dia sedang menungguku. Aku tidak boleh terlambat.

Aku mengambil buku musik bersampul coklat di atas meja dan kunci mobil kemudian keluar dari kamar dan menuju basement parkir. Aku menyalakan alarm mobil sporty red jaguar yang terparkir manis di blok 2. Sambil memasang seatbelt aku melihat guess silver di pergelangan tanganku yang menunjukkan pukul 07.00. Aku menginjak pedal gas dan memacu mobil melesat menyusuri jalanan kota Seoul yang mulai padat. Tidak sampai setengah jam aku sampai di pelataran parkir sebuah bangunan yang menjulang tinggi dengan lonceng di atapnya. St. Mary Cathedral.

Aku disambut oleh senyuman dan jabat tangan dari orang-orang yang kutemui di halaman gereja. Kebanyakan teman-teman kuliahku dulu. Aku sempat menengok ke dalam gereja yang sudah di dekorasi sedemikian rupa dengan karpet merah memanjang menuju altar. Aku menyusuri lorong sebelum pintu utama menuju ruang yang biasa di gunakan sebagai ruang ganti.

Aku melihat pintu jati berukir berwarna hitam sedikit terbuka. Aku membukanya perlahan. Sesaat aliran darahku serasa terhenti. Aku melihat dirinya dari pantulan cermin, dia berdiri di depan cermin besar. Gaun pengantin berwarna putih mutiara membalut seluruh tubuhnya. Cantik. Ahh tidak lebih dari itu. Like an Angel. Hatiku berdesir. Aku terus menatapnya. Mengagumi pesonanya yang bisa membuatku seperti hilang ingatan. Dia menyadari kehadiranku dari pantulan cermin dan tersenyum ke arahku. Senyuman yang sangat hangat. Aku tersadar dari lamunku dan membalas senyumnya.

“Jinki-ya kau datang juga” dia segera menyambutku. Aku masuk ke dalam. Kulihat Sunghee, sahabatnya yang sedang duduk di sofa di samping cermin tersenyum kearahku juga.

“Aku belum telat kan??” tanyaku.

“Setengah jam lagi. Kalau kau telat lebih dari jam 8, ku jamin kau akan menyesal seumur hidupmu”

Aku tertawa mendengar ancamannya.

Dia memanyunkan bibirnya sambil meninju bahuku pelan. Aku suka saat dia memanyunkan bibirnya seperti itu. Seperti anak kecil yang tidak di beri permen oleh Eomma.

“Lagumu sudah jadi kan?? kau harus memainkannya untukku” ucapnya sambil mematut dirinya di depan cermin sekali lagi.

“Yaa kau sudah cantik kok” Aku menjejeri tubuhku di sampingnya dan menghadap kaca. Sempurna. Aku memang pantas berada di sisinya.

“Sudah, akan ku mainkan dengan piano” lanjutku sambil tersenyum ke arahnya di depan cermin.

“Gomawo. Gomawo kau tetap ada di sisiku sampai saat ini Jinki-ya” ucapnya tersenyum lebar sambil merangkul tanganku.

“Sudah…sudah jangan lihat-lihatan kalian seperti pasangan suami-istri saja” Sunghee tiba-tiba nyeletuk.

Aku hanya tersenyum kecil, mengamini perkataan Sunghee.

“Kalo begitu aku kedalam dulu, aku harus mengecek pianonya” ucapku sambil melepas rangkulan tangannya.

“Ne, nyanyikan yang sangat bagus untukku” ucapnya. Senyuman manis muncul dari bibirnya sehingga membuat kedua lesung pipinya menyembul. Hatiku kembali berdesir melihat senyumannya.

“Pasti, My Princess” jawabku.

Dia tersenyum melambaikan tangannya padaku.

Aku melangkahkan kakiku keluar, menuju pintu utama gereja. Aku masuk. Sudah ada banyak orang di dalam gereja. Mereka semua tersenyum kearahku.

“Jinki !” Aku menoleh ke arah suara yang memanggil namaku. Kyuhyun Hyung ternyata.

“Hey Hyung baru datang ??”

“Ne, aku kesiangan aku baru saja terbang dari Jepang tadi malam, ada masalah dengan proyek pembangunan disana. Kau sudah bertemu dia ??”

“Yaa dasar arsitek sibuk, jaga kesehatanmu lah. Aku saja bisa mengatur jadwalku. Ne, Aku baru saja dari sana”

“Sebentar lagi ada yang mengurusku juga kok. Kau kan punya manajer yang mengatur jadwalmu. Bagaimana dia ??” Tanya Kyuhyun kembali.

“Nanti juga kau akan lihat kok Hyung. Aku mau mengecek piano dulu” Aku segera berlalu menuju piano putih di depan.

Aku duduk di depan piano berwarna putih. Membuka penutup piano dan menekan tuts pelan. Dan mulai memainkan satu lagu. Satu lagu dari Mini Albumku yang baru rilis bulan lalu. One.

Aku melihat pendeta telah datang dan berdiri di depan altar. Aku bangun dan bersiap menuju pintu utama. Piano kini telah di ambil alih oleh pianist gereja.

Jantungku semakin berloncatan. Aku sangat gugup. Aku keluar dan menuju ruang ganti. Appanya sudah berada disamping kanannya. Sunghee sibuk menata ekor gaunnya yang panjang. Beberapa anak kecil yang berbalut gaun malaikat memegang bunga berdiri di belakangnya. Aku melihat kegugupan juga terpancar dari wajahnya meskipun terhalang penutup wajah tipis. Dia tersenyum lembut ke arahku.

“Aku gugup, Jinki-ya” ucapnya pelan saat aku di sampingnya.

Aku hanya mengenggam tangannya, memberi ketenangan walaupun sebenarnya aku juga gugup.

“Yuna ?”

“Hemm” dia menoleh ke arahku.

Aku hanya menatap wajahnya lama. Menelusuri manik mata coklatnya.

Saranghae, ucapku dalam hati.

“Cuman miskol” jawabku pelan.

“Yaa kau ini, aku gugup tau” Yuna hanya meninju bahuku pelan.

“Kau siap Yuna ??” Appa Yuna menanyakan keadaan Yuna dan merangkulkan tangan kanan Yuna pada lengannya.

“Ne Appa” jawab Yuna.

“Kau juga Jinki ??” Appa Yuna kembali bertanya padaku.

“Ne” Jawabku. Aku merangkul tangan kiri Yuna.

Aku, Yuna dan Appa Yuna berjalan pelan menuju pintu utama. Sunghee dan pengiring pengantin wanita lainnya sibuk memegangi gaun Yuna yang panjang. Pintu utama terbuka pelan menyambut kami. Kami berjalan menyusuri karpet merah. Semua mata tertuju kepada kami yang berjalan menuju altar. Lantunan wedding song terdengar mengiringi langkah kami. Langkah kami semakin dekat ke altar. Aku melihat pendeta sudah menunggu di altar bersama seorang pria yang memakai tuxedo putih. Pria itu tersenyum lebar ke arah kami. Aku melihat sedikit kegugupan tapi aku juga melihat keyakinan terpancar dari matanya. Mata seorang pria yang sangat dicintai oleh gadis di sampingku ini. Dialah pengantin pria. Cho Kyuhyun.

Dan aku hanya seorang pendamping pengantin wanita. Aneh memang karena dimana-mana pendamping pengantin wanita hanya satu dan itu biasanya orang tua dari sang pengantin. Tapi tidak dengan Yuna, dia meminta 2 orang sebagai pendampingnya, Appa-nya dan Aku, Sahabatnya. Sahabat sejatinya. Appa Yuna dan aku melepas rangkulan Yuna. Tangan Kyuhyun menyambut tangan kanan Yuna dan membimbingnya ke depan altar.

Aku dan Appa Yuna duduk di barisan paling depan bersama Eomma Yuna. Aku juga melihat di barisan sebelahnya adalah keluarga Kyuhyun Hyung.

“Jinki-ya”

Aku menoleh saat Appa Yuna setengah berbisik padaku.

“Sebenarnya aku mengharapkan kau yang bersanding di depan bersama Putriku” Suara Appa Yuna yang berbisik di telingaku membuatku tercengang.

“Ahjussi…” aku menatap wajah pria yang sangat ku hormati seperti Appa-ku di sampingku ini dengan pandangan kaget.

“Tapi aku berterima kasih padamu Jinki-ya, sudah menyayangi dan melindungi putriku selama ini bahkan mau menjadi pendamping Yuna di hari pernikahannya” Appa Yuna tersenyum penuh arti ke arahku.

“Kau memang sudah kuanggap seperti anak laki-lakiku sendiri, tapi aku juga ingin kaulah yang menjadi menantuku” Suara Appa Yuna terdengar menyesal.

“Tapi sudahlah.. sangat terlambat sekarang” Appa Yuna kembali menghadap ke depan dan memasang wajah bahagia menatap putrinya. Hanya tinggal aku yang berkecamuk dengan pikiranku sendiri. Konsentrasiku mulai pecah.

Aku kira Ahjussi hanya menganggapku sebagai anak lelakinya saja sekaligus kakak Yuna. Tapi ternyata dia menginginkanku jauh dari yang kukira.

Dia menginginkan aku sebagai pendamping putrinya yang sebenarnya, dan dia menginginkan aku menjadi pelindung putrinya selamanya.

Itu yang aku inginkan. Itu yang aku harapkan. Itu yang aku mau. Dan itu jugalah harapanku.

Kenapa aku begitu takut dengan perasaanku sendiri, kenapa aku tidak menunjukkan perasaanku sendiri, kenapa aku begitu bodoh memendam semua perasaan ini sendiri.

Semua ucapan Yuna tiba-tiba berputar-putar di benakku.

“Jadilah pelindungku selamanya Jinki-ya”

Ucapan Yuna yang sering kudengar saat dia bertengkar dengan Appa-nya dan berkeluh kesah padaku sebagai tempat pelariannya.

“Don’t leave me Jinki-ya”

Ucapan Yuna saat aku tergolek di rumah sakit karena maag kronisku kumat.

“Wanita itu tidak cocok untukmu, dia terlalu centil. Cuman aku yang pantas di sampingmu, Jinki-ya”

Ucapan Yuna saat ada seorang Noona – noona yang mendekatiku.

“Yaa aku ini protektif padamu karena aku tidak mau maag-mu kumat, tidak mau kau salah pilih kekasih, tidak mau kau kesepian. Karena aku sayang padamu Jinki-ya”

Ucapan Yuna saat aku bertengkar dengannya karena perhatiannya padaku selalu berlebihan.

“Orang ketiga yang paling berarti di hidupku adalah Appa, Eomma dan Kau, Jinki-ya. Ingat itu.”

Ucapan Yuna di bandara saat hendak ke Jepang untuk melanjutkan studi S2 nya.

“Aku berharap Kyuhyun Oppa sama baiknya denganmu Jinki-ya”

Ucapan Yuna saat dia berpacaran dengan seorang arsitek Korea yang tinggal di Jepang.

“Aku memintamu menjadi pendamping-ku karena kau adalah orang yang paling berharga didalam kehidupanku Jinki-ya”

Ucapan Yuna 3 bulan yang lalu saat Kyuhyun melamarnya.

“Gomawo. Gomawo kau tetap ada di sisiku sampai saat ini Jinki-ya”

Ucapan Yuna beberapa jam yang lalu sebelum pernikahannya.

Yuna-ya apa kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku, Tanyaku dalam hati.

Suara tepuk tangan memecah lamunanku. Wedding vow sudah di ikrarkan keduanya. Aku melihat senyum bahagia terpancar jelas dari wajah Kyuhyun Hyung saat membuka penutup wajah Yuna. Mereka berciuman. Hatiku panas. Air mata mulai menggenangi pelupuk mataku. Bukan air mata kebahagiaan. Tapi air mata penyesalan. Penyesalan kenapa aku tidak jujur kepada perasaanku. Penyesalan kenapa aku takut dengan perasaanku sendiri. Ketakutan bahwa Yuna hanya menganggapku sebagai sahabatnya saja. Ketakutan bahwa Appa Yuna hanya menganggapku sebagai anak lelakinya saja. Penyesalan kenapa tidak menyadari perasaanku kalau aku memang mencintai sahabatku sendiri.

“Katanya kau mau memainkan lagu Jinki-ya??” Ucapan Appa Yuna mengagetkan aku.

“Ahh ne, Ahjussi” Aku berdiri dan berjalan menuju piano putih di depan.

Yuna melirik ke arahku, tersenyum dan mengangkat tangan kanannya “Fighting!!!” ucapnya pelan.

Aku tersenyum teringat awal pertemuan pertamaku dengan Yuna. Saat ospek kuliah tahun 2008. Ahh sudah 7 tahun aku bersamanya. Sebagai sahabatnya.

Lagu ini ku ciptakan untuk Yuna. Tapi aku tidak pernah mengatakannya bahwa lagu ini untuknya, aku hanya mengatakan lagu ini untuk orang yang paling spesial di dalam hidupku. Saat dia berkata bahwa dirinya-nya lah yang paling spesial di hidupku, aku hanya mengacak-acak rambutnya dan menjawab “Kau kira cuman dirimu yang paling spesial di hidupku hah? Aku juga mempunyai seorang wanita yang spesial dan kucintai”. Setelah itu dia hanya cemberut dan memanyunkan bibirnya.

The Name I Loved itu judulnya. Lagu ini kurencanakan akan menjadi lagu utama di albumku yang akan dirilis beberapa bulan lagi. Dan album itu akan kudedikasikan seluruhnya untuk dirinya.

Jari-jariku mulai memainkan tuts-tuts hitam putih di depanku.

soni siryeowa sarangui gieogi chagapge dagawa
aryeoonda ijeneun deo isang neoreul bujeonghago sipji anheun nareul algo itjiman
gakkai inneun neol saranghal su eomneungeol algo itgie
nal barabol su eomneun neol gidarimi neomu himdeureo
ijen gyeondil su eobseo irwojil su eopgie

Both hands trembles as I remembered the cold love memories
Now it is getting weirder, I dont wish to reject you, but I just know that
No matter how close we are, I know that I cant love you anymore
I can’t miss you waiting for you makes me tired
I can’t endure anymore and I cant realize this


naega saranghaetdeon geu ireum
bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon
geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo nae ane sumgo sipeojyeo
neol saranghal subakke eobseotdeon geu nareul ijen arajwoyo
irul su eomneun sarangdo saranginikka

The name I loved once in this life
Has becoming further and further away from me
I am writing your name on a paper and forever kept it in my heart
From thatday I only realized that I will only loved you forever
Love that cant be together can also be known as Love


honja hal su eomneun sarangiran neukkimeun naege dagawa
sijak hal su do eomneun geuriumdeureun keojyeoman gago
sirin gaseum han kyeonen neoui hyanggiman nama

I cant handle the love memories and feelings alone
I cant start this, I can only miss you secretly in my heart
My heart only left your body fragrance that I missed and always loved


naega saranghaetdeon geu ireum
bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon
geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo nae ane sumgo sipeojyeo
neol saranghal subakke eobseotdeo geu nareul ijen arajwoyo
irul su eomneun sarangdo saranginikka

The name I loved once in this life
Has becoming further and further away from me
I am writing your name on a paper and forever kept it in my heart
From that day I only realized that I will only loved you forever
Love that cant be together can also be known as Love


sucheon beoneul dorikyeo cheoeumui naro gan sungane
gaseum han guseoge da asagal ne moseubin geol

Kept remembering the first time I saw you walking towards me
And stolen an edge of my heart without noticing


naega saranghaetdeon geu ireum
bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon
geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo nae ane sumgo sipeojyeo
neol saranghal subakke eobseotdeon geu nareul ijen arajwoyo

The name I loved once in this life (Loved once in this life)
Has becoming further and further away from me
I am writing your name on a paper and forever kept it in my heart
From that day I only realized that I will only loved you forever
Even though it is not long, but my love for you will never change


irul su eomneun sarangdo saranginikka
irul su eomneun sarangdo saranginikka

Love that cant be together can also be known as Love
Love that cant be together can also be known as Love

Suara tepuk tangan mengakhiri permainan piano-ku. Aku sudah merasakan air mataku akan segera tumpah tapi aku menahannya karena sekarang semua orang tengah menatap ke arahku. Aku menundukkan badanku sebagai tanda ucapan terima kasih. Saat itu air mataku mulai mengalir. Saranghae. Saranghae Yuna-ya.

END

 

5 thoughts on “[fanfic][Oneshot] The Name I Loved

  1. yaaaaaaaaaa,,,,yunaaaaaaa,,,,luci,,whateverlah,,,Jinki Q,,,,hesh,,dy gak akan menangis lagi krn udh brsamaQ,,*digorok Shawol,,
    lbh baik yuna mnikah dgn Kyuhyun,,,klo nikah ma Onew,,bakal aq gorok tu Yuna,,,wkwkwkwkwwk

  2. hhahaa iiyaa kan ud ak blg, klo aku ga pandai bwd romance .
    pling mentoknya yaa romance commedy .
    tpii spertinya saia ahli ff bergenre cengeng deh .

    hhaahhahaa he’em mna ada lagu pernikahan sedih mampuss, tpii namana ajaa lgu persembahan .

  3. >asli jauh dari yg namanya romanceangs abisssss!!!!sumpah yuna-ya kao jahat sekali dengan onewKu,huuuaaaaaaaaaaaaaaaahhh T.Taku akan membunuhmu!!!hiiiikkssasli nyesek beuud iq,benerankasian ntu jinki, pasti di otaknya"lalu kao kemanakan aku yuna,oohhh yuna bunuh aku bunuh aku bila aku tak bisa memilikimu"ani ani, jinki tak selebai itu,ahahhahahhahahaeh eh thor btw ntu lagu masak iyaw buwad weddingyang ada ntu lagu sedih bukan bahagiaahahhhaaku jadi inget scene di Love Actually😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s