[fanfic] Just Seven Days Part 1 [TVXQ Version]

Annyeonghaseyo

Iam kombek again dengan fanfic bergenre “Tak jelas” ini. Cerita ini asli curcol author dengan sedikit sentuhan-sentuhan tambahan lainnya untuk memperindah artistik fanfic ini *capedeh*

Langsung saja di baca, and give comment *bow*

Cast: Jung Yunho, Park Narin, Kim Hyora, Kim Jaejoong, and TVXQ Member.

“Chagi.. aku ke toilet dulu ya”

“Hemm” jawabku singkat sambil menyeruput secangkir Cappucino Latte pelan.

Aku meletakkan cangkir putih itu ke meja dan memandang jendela cafe menatap rintik hujan yang mulai membasahi jalan kota Busan yang padat.

Ddrrrtttt ddrrtttt ddrrttttt

Aku merasakan meja tempatku meletakkan tanganku bergetar pelan. Aku melihat android yang ku letakkan di samping cangkir tetap pada posisi semula. Bukan handphone-ku ternyata. Aku melihat sekilas blackberry putih di depanku yang masih bergetar dan layarnya menyala. Aku hendak mengambil namun ku urungkan niat begitu getaran itu berhenti. Beberapa detik kemudian handphone itu kembali bergetar pelan. Langsung ku ambil.

1 Missed Call and 1 Message Received. Aku membuka inbox dan membaca isinya. Aku memang melanggar privasi pemilik handphone tersebut, tapi toh dia kekasihku juga kan, siapa tau sms ini penting.

Bola mataku melebar membaca isi sms singkat tersebut.

Baby, jangan lupa nanti malam yaa, aku jemput. Love U.

“Cish mulai lagi dia” aku menggumam dan jempolku terus menggeser trackpad kebawah.

“Dia yang mulai permainan ini duluan” aku tersenyum sinis membaca isi inbox yang hampir semuanya berasal dari nama dan nomor yang sama.

Aku meletakkan kembali handphonenya ke posisi semula.

“Sudah ku bilang berhenti tapi kau tetap saja ingin melanjutkan ini semua Park Narin, yaa aku akan ikuti semua permainanmu” Aku masih terus menggumam sambil memandang ke luar cafe. Rintik hujan tadi tidak berniat membasahi kota ini.

“Chagi.. mianhae lama yaa” Suara seorang gadis mengagetkan lamunanku.

“Hahaha sejak kapan kau di toilet sebentar hah ??”

“Kau selalu tau tentang diriku Chagi” ucap gadis itu meletakkan tas jinjingnya di kursi.

“4 tahun aku bersamamu, kebiasaan apa dari dirimu yang tidak ku hafal”

Gadis itu hanya tersenyum manis dan mengecup keningku singkat.

“Jam berapa kau balik ke Seoul, Chagi ??” Tanya gadis di sampingku yang kini menyender manja di bahuku.

“Di tiket kereta tertulis jam 4 sore”

“Mianhae aku tidak bisa mengantarmu, aku ada janji dengan Jisun mau ke salon” ucap gadis itu kembali dengan menunjukkan senyuman manis. Sebuah senyuman yang membuatku terpikat padanya.

“Gwenchanayo aku bisa sendiri” ucapku pelan menahan rasa nyeri. Kau ingin berkencan kan Park Narin ? kenapa kau membohongiku terus hah, ucapku dalam hati.

“Aigoo kau benar-benar perhatian Chagi, saranghaeyo” Gadis itu mengecup bibirku pelan. Aku tak berniat membalas.

“Nado” Aku tersenyum kecil dan mengelus rambut panjangnya.

Gadis itu adalah Park Narin. Sudah 4 tahun kami menjalani hubungan sebagai seorang kekasih. Sejak 2 tahun yang lalu aku menyadari hubungan kami mulai tidak sehat. Narin berselingkuh dengan temanku sendiri. Tapi setelah itu dia meminta maaf padaku dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku percaya padanya. Karena aku sangat mencintai dirinya. Ternyata kepercayaanku disalahgunakan lagi olehnya. Sejak aku kuliah di Seoul, aku sering mendengar dari teman-temanku kalau Narin sering sekali jalan berdua dengan laki-laki.

Sebelum perang dunia pecah alias aku mengamuk, Narin memutuskan pacar-pacarnya dan kembali lagi padaku. Aku teringat perbincangan kami di telepon 1 tahun yang lalu.

“Aku jenuh dengan hubungan ini, kau di Seoul dan aku di Busan, aku ingin merasakan sesuatu tantangan”

Aku sudah menduganya dia pasti jenuh dengan hubungan ini.

“Lalu kau mau apa ??” Tanyaku kembali.

“Kau hanya perlu tahu satu hal Jung Yunho-ku yang tampan, walaupun aku berkencan dengan 1000 lelaki, aku tetap akan kembali padamu”

Aku sudah kebal dengan kelakuannya yang seperti itu, aku sudah tidak sakit hati lagi. Karena aku tahu ucapannya itu memang benar. Narin selalu memilihku pada akhirnya.

“Dan kau juga boleh berkencan dengan 1000 wanita, asal kau juga harus kembali lagi padaku” ucapnya mengakhiri pembicaraan.

********

Dia yang memulai ini semua, maka aku pun akan memulainya. Aku akan mengikuti seluruh permainannya.

“Yunho-ya nanti malam kau datang ke party Junsu ??” Tanya Jaejoong padaku. Dia sahabatku. Sahabat suka dukaku. Berkat dia aku mengenal dunia malam dan berkat dia aku bisa berkenalan dan berkencan dengan teman-teman wanitanya tapi belum ada satupun wanita yang mampu  menarik perhatianku, kecuali Park Narin. Seluruh hatiku benar-benar sudah terkunci untuk dirinya.

“Tenang saja nanti akan ku kenalkan dengan wanita-wanita disana, ku dengar yang akan datang teman-teman Junsu, sesama model. Wuiihh aku yakin mereka semua pasti cantik dan tubuh mereka hemmmmm…….” Jaejoong masih sibuk mengoceh dan pandangan matanya menerawang seakan membayangkan seseuatu hal yang… ya kalian tau sendirilah.

“Kau jemput saja aku” aku mengakhiri pembicaraan karena dosen Lee sudah memasuki kelas.

Ahhh sepertinya aku akan mendapat sebuah mainan baru lagi. Narin-ah berkat kau, aku jadi seperti ini.

Pesta ulang tahun Junsu yang dirayakan di sebuah klab malam memang sangat meriah, benar kata Jaejoong, teman-teman wanita Kim Junsu sangat cantik. Tidak menunggu waktu lama, aku sudah mengantongi 10 nomor handphone gadis-gadis tersebut. Alunan musik yang makin menghentak membuatku betah di lantai dansa bersama 2 orang gadis cantik yang menari bersamaku.

“Yunho-ya” Sebuah tepukan keras terasa di lenganku.

“Wae Joong ??” ucapku cuek dan terus menari.

“Temani aku kedepan, aku ingin menemui temanku” Jawab Jaejoong keras di telingaku.

“Aigoo kau sendiri sajalah, atau dia yang kau suruh masuk”

“Kau mau besok kuis Dosen Park mendapat nilai E seperti yang sudah-sudah hah ?? dia membawa jawaban soal kuis dari kelasnya, Kajja!!!” Jaejoong menyeretku menjauhi lantai dansa. Aku memberikan wink dan senyuman kepada 2 gadis yang tadi menari bersamaku.

“Temanmu siapa hah ?? Kenapa kau tidak suruh masuk saja” Tanyaku sambil mengikuti Jaejoong ke pintu keluar.

“Dia temanku dari semester satu, dia sering membantuku dalam urusan kuliah, kalaupun dia diundang, dia tidak mungkin menginjak tempat seperti ini”

“Cissh masih ada saja orang seperti itu didunia ini, Munafik” aku tersenyum sinis.

“Tutup mulutmu atau aku tidak akan memberimu jawaban kuisnya” Jaejoong melirik tajam padaku dan sedikit berlari menaiki tangga.

“Kau sudah lama ??” Jaejoong menghampiri dua orang yang sedang menyender di sisi kiri New Ford hitam.

“Sangat lama Joongi-ya, untung saja Nara mau mengantarku jam segini, kau yang butuh kok aku yang repot” cerocos seorang gadis yang terhalang badan Jaejoong.

Aku mendekati Jaejoong dan berdiri disampingnya. Aku bisa melihat kedua orang tersebut. Dua orang gadis. Aku mengenalnya tapi tidak dekat. Nara dan Hyora. Nara aku mengenalnya karena dulu aku pernah satu kelompok ospek dengannya, sedangkan Hyora aku kenal karena dia teman Jaejoong tapi kami jarang sekali mengobrol.

“Ah kau juga disini Yunho-ya ??” Nara menyapaku.

“Ne, aku diundang Kim Junsu juga” jawabku tersenyum.

“Joongi-ya walopun itu jawaban kuis dari kelasku tapi Dosen Park bisa memberikan soal yang berbeda, jadi sebaiknya kau belajar” ucap Hyora memberikan selembar kertas yang sudah dilipat pada Jaejoong.

“Ne, arraseo Hyora-ya, gomawo” ucap Jaejoong mengacak-acak rambut Hyora.

“Aissshh kalau kau bukan temanku tidak akan aku capek-capek jam segini kemari Joongi-ya”

“Aigoo ne, ne gomawo-yo Hyo” Jaejoong ingin mengacak rambut Hyora, namun dengan sigap tangan Jaejoong ditepis.

Aku tersenyum kecil melihat tingkah mereka.

“Ah Hyora-ya aku juga ikut melihat jawabanmu ya ?” ucapku memulai pembicaraan dengan Hyora.

“Silahkan saja Yunho-ssi, aku senang bisa membantu teman-temanku” jawab Hyora tersenyum. Sangat manis. Karena kedua lesung pipinya langsung menyembul dari pipinya.

DEG. Tiba-tiba jantungku seakan berhenti. Hanya senyuman satu orang yang bisa membuatku menjadi seperti ini yaitu Narin. Tapi kenapa aku  merasakannya lagi dari sosok berbeda di hadapanku ini.

“Jangan terlalu formal seperti itu Hyora-ya, panggil Yunho saja” ucapku sedikit kikuk.

“Ah ne, Yunho-ya” jawab Hyora kembali dengan tersenyum.

Aku merasakan jantungku kembali berdesir.

“Kami pulang dulu kalau begitu” pamit Nara pada aku dan Jaejoong.

“Hati-hati di jalan Yeppeo” jawabku antusias dan tersenyum melihat Ford hitam itu menjauh.

“Jangan bilang kau tertarik dengan salah satu dari mereka Yunho-ya” ucap Jaejoong tiba-tiba.

“Waeyo ??”

“Nara sudah punya pacar, Park Yoochun ketua BEM, sedangkan Hyora, aku tidak akan mengijinkanmu mendekatinya”

“Waeyo Joongi-ya ??” Tanyaku penasaran.

“Dia terlalu baik untuk lelaki sepertimu” jawab Jaejoong sambil berlalu meninggalkanku dan masuk ke dalan klab.

“Mwo ??”

**********

Perlu waktu yang sangat lama meyakinkan Jaejoong bahwa aku serius ingin mendekati Hyora. Aku benar-benar tertarik dengan gadis itu. Sudah 2 minggu aku berkomunikasi dengan Hyora, lewat sms ataupun twitter. Aku meyakinkan Jaejoong bahwa aku sudah putus dengan Narin. Demi meyakinkannya, aku tidak pernah pulang ke Busan, padahal setiap akhir pekan aku selalu menyempatkan pulang ke Busan bertemu dengan orang tuaku ataupun melepas rindu dengan Narin. Awalnya Jaejoong tidak percaya tapi melihatku terus memaksa akhirnya Jaejoong luluh. Jaejoong hanya bilang:

“Aku tau dirimu Yunho-ya, dan aku tau Hyora, aku tidak tau kau berbohong padaku atau tidak, tapi jangan samakan Hyora dengan wanita-wanita yang pernah kau dekati sebelumnya, walaupun aku lelaki brengsek tetapi aku masih menghargai Hyora, jadi kumohon padamu pikirkan lagi keputusanmu jika ingin serius mendekatinya”

Aku tau pada akhirnya nanti aku akan menyakiti Hyora, tapi aku benar-benar ingin memilikinya. Aku tidak tau sampai kapan, tapi setidaknya sebelum waktuku habis, aku ingin Hyora menjadi kekasihku. Apa aku jahat ? Jika dibilang jahat, aku memang jahat karena aku tau aku akan menyakitinya pada akhirnya. Tapi kali ini aku yakin dengan perasaanku, kalau aku mencintai gadis itu.

November 3rd

Tidak butuh waktu lama untuk meyakinkan Hyora kalau aku benar-benar menyukainya. Setangkai daun yang kupetik asal dari jalan, dan aku memberikan padanya.

“Aku tidak mempersiapkan apa-apa, aku hanya bisa memetik daun ini karena aku tidak bisa menunggu lagi. Choaeyo Hyora-ya”

Aku melihat wajah Hyora sedikit tersipu dan menjadi kikuk. Aigoo lucu sekali dia seperti itu.

“Aku tau tentang dirimu Yunho, aku tau dari Jaejoong, tapi aku tidak peduli masa lalumu, aku percaya padamu, aku percaya setiap orang bisa berubah, itulah mengapa aku mengizinkan hatiku di ketuk oleh dirimu dan aku mempersilahkanmu masuk Yunho-ya”

Aku terhenyak oleh ucapan yang mengalir dari bibir gadis dihadapanku ini. Kata-kata itu sangat sederhana tapi mampu membuat hatiku berdesir. Aku langsung memeluk Hyora. Akhirnya aku bisa mendapatkannya.

Jaejoong sangat heran dengan perubahanku, aku menjadi sering masuk kuliah, aku mulai jarang pergi ke klab dan satu lagi kebiasaan merokok-ku mulai berkurang.

“Aku sedih karena tidak ada lagi partner malamku, tapi aku senang kau membuktikan ucapanmu Yunho-ya” ucapan Jaejoong di kelas kemarin.

Hyora benar-benar membuat hari-hariku berwarna. Setiap pagi dia selalu meneleponku hanya untuk membangunkanku karena kebiasaan bangun siangku yang sangat parah. Hal yang tidak aku dapatkan dari Narin. Hyora selalu menanyakan apa aku sudah makan atau belum. Narin memang sering melakukannya tapi sudah sebulan ini dia tidak menghubungiku, palingan dia juga sibuk berkencan. Hyora mudah sekali tersipu, kebiasaanku mencium tangannya setelah aku mengantarnya pulang selalu membuat pipinya memunculkan semburat merah.

Memasuki hari kelima hubunganku dengan Hyora, Narin mengetahuinya. Dia mengetahuinya dari mention-mention twitterku. Kami memang sudah putus. Putus-Nyambung seperti kata BBB *plak*

Narin cemburu. Dia marah. Kami bertengkar di telepon.

“Aku memang mengizinkan kau berkencan dengan wanita lain Yunho-ya, tapi aku tidak mengizinkan jika kau mempergunakan perasaanmu”

“Aku tidak tau jika perasaanku ikut campur tangan”

“Kau mencintai gadis itu hah ??”

“Ne” jawabku singkat.

“Mwo ??”

“Aku tidak mau tau Yunho-ya, patuhi janjimu, jangan ingkari kata-katamu, kau dan aku sudah di takdirkan bersama. Kau milikku dan aku milikmu”

“Jadi hentikan perasaanmu atau kau akan menyakiti perasaan gadis itu” lanjut Narin tegas.

“Anio, aku tidak bisa Narin-ah”

“Aku sudah memberikan SE-GA-LA-NYA padamu Yunho-ya, jadi kau jangan mengecewakan aku” Narin menekankan kata ‘segalanya’.

Dan kata-kata andalannya itu yang bisa membuatku terdiam.

“Ne, aku akan memikirkannya Narin-ah” aku mengakhiri komunikasi itu. Pikiranku luar biasa kacau.

Aku sudah duga akan begini akhirnya. Aku kira waktuku tidak secepat ini. Aku harus segera mengambil keputusan.

TBC

2 thoughts on “[fanfic] Just Seven Days Part 1 [TVXQ Version]

  1. >iiaa pas plg kmren ak lngsng duduk dpn lepi trs lngsng nulis .krn Yunho itu bias ku makanya ak dgn sngat terpaksa mmbuatnya jdi si DK .trus diantara member dbsk yg wjahnya pling nakal ya cmn jaejoong doang .tnpa hrs lnjut pun dirimu uda tau akhirnya kan .heheheehehehehe .

  2. >kyaaaaaaaaaaaaaaaaa…dari judulnya pun aku dah bisa tebakahahhakao malah membuatku ngakakmasak iya yunho itu diatyus jeje refers to b**??? jinjayo??ahahhahahkeren dah keren,lanjut lanjut,hahhaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s