[fanfic] Day by Day Chapter 3

Chapter 3

He’s my First Boyfriend

Sebelumnya:

Day by Day Chapter 2

Akhir mei 2006

Aku pamit pada seluruh Creative Team, sedih sekali meninggalkan kebersamaan 4 bulan ini. Mereka mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan denganku di rumah makan milik Shin Ju Ahn, PD Mistery 6. Ah aku tidak menyangka jika aku bisa diterima sedekat ini dengan mereka semua.

“Hyorin-ssi, aku sudah mengirim penilaian selama kau magang disini pada Dosen Pembimbingmu” Kata Junghoo Hyung.

“Ne Oppa, jeongmal gomawo sudah mengajari dan membantuku selama ini”

Ahhh waktu 4 bulan memberikan banyak pengalaman padaku. Dan seperti saran Sunbae-sunbaeku aku harus fokus pada skripsiku dan mereka berharap aku bisa bergabung dengan mereka lagi, bukan sebagai mahasiswa magang tapi sebagai karyawan sesungguhnya. Ya Sunbae, aku juga ingin, tapi yang kutahu penerimaan karyawan di seluruh stasiun televisi sangat sulit dan penuh persaingan yang jauh lebih nyata dari persaingan nilai di kampus.

Bagaimana dengan super Junior ?? Yang ku tahu dari Infotainment, mereka menambah salah satu anggotanya lagi. Mwo??? Mereka itu sudah berdua belas, mengapa mereka menambah satu orang lagi ?? Omoo apa mereka tidak kasihan dengan para kru yang harus menyiapan stage yang lebih besar lagi hanya untuk mereka. Sedangkan hubunganku dengan ikan mokpo itu?? Yaa semakin akrab saja.

Aku dan Donghae semakin serius menjalani hubungan yang awalnya aku anggap main-main ini, sampai Donghae datang ke apartemenku di minggu pagi dan aku kaget luar biasa, bukankah dia sedang sibuk promo Single U nya.

“Annyeong Noona” ucapnya saat aku membuka pintu apartemenku.

“Heh kamu ? kok bisa kesini? Ngapain? Kamu lagi kosong?”

“Aigoo noona, nanyanya satu-satu dong, dan sampai kapan kau membiarkanku di luar seperti ini”

“Ohh masuk lah” kataku mempersilahkan dia masuk.

Dia masuk dan memperhatikan setiap detail isi apartemenku.

“Apartemenmu sangat rapi Noona, aku suka” katanya sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di kamarku.

Ah sebenarnya apartemenku tidak ada ruang tamu, semuanya jadi satu hanya dapur dan kamar mandi saja yang tidak.

“Kau sering duduk di balkon kamarmu ya Noona ?” Matanya tetap menjelajah seluruh isi kamarku.

“Ah ne jika sedang bosan aku biasanya duduk di balkon menggunakan kursi santaiku” aku berjalan ke lemari, membuka kardus dan mengambil pompa kecil di samping lemari.

“Mwo?? Apa itu” sahutnya tertarik pada benda yang kupegang sekarang.

“Kau lihat Donghae-ya, kursi ini jauh lebih nyaman dari kursi manapun”

Aku memasukan ujung selang pompa ke lubang yang ada pada benda berwarna biru sapphire itu. Aku memompanya dan benda itu mulai mengembang menjadi bentuk sebuah kursi santai. Yakk jadi, ini kursi paling nyaman sedunia. Aku menarik sofa angin itu ke balkon.

“Donghae-ya cobalah”

Donghae berjalan ke balkon dan menduduki sofa angin bewarna biru itu.

“Ahh benar Noona, enak sekali sofa ini apalagi dengan suasana autumn seperti ini”

“Nyaman sekali Noona, bolehkah aku membawa pulang sofa ini?”

“Mwo?? Bawa pulang?? Kau beli saja sendiri, kau punya banyak uang kan, lagi pula kursi itu sudah menemaniku selama 2 tahun” aku menolak permintaan konyolnya.

“Uangku yang banyak itu tidak akan cukup untuk membeli sofa ini Noona-ya…”

Aku ingin membalas perkataannya, namun aku terdiam begitu dia melanjutkan.

“Sofa ini mahal karena telah menemanimu selama bertahun-tahun, di kala kau sedih atau kau senang Noona, saat kau membaca buku, saat kau melamun di atas kursi ini itu yang tidak dapat ku beli. Dan aku berharap aku ingin menjadi sofa ini sampai kapanpun Hyorin-ah”

DEG. Jantungku melompat-lompat tak karuan mendengar perkataan Lee donghae barusan. Ah dia itu kesambet setan apa sampai ngomongnya makin ga jelas. Donghae menatapku yang tengah menatapnya.

“Ahh Noona-ya kau lucu sekali memakai piyama jeruk seperti itu”

Aigoo kurang ajar dia berhasil membuat jantungku berceceran lagi. Apa dia bilang piyama? Aku menatap diriku sendiri dan omooo mengapa aku tidak sadar masih memakai piyama. Aku langsung berjalan menuju lemariku, mengambil baju dan menuju ke kamar mandi.

“Noona-ya bekas ilermu jangan lupa dibersihkan”

Aku menjawabnya dengan  melempar sendal kamarku yang berbentuk jeruk itu ke arahnya.

*************

Juni 2006

Aku berhasil menyeleseikan skripsiku. Hanya 2 bulan setengah aku mengerjakannya, karena sudah mulai ku cicil pada awal magang dulu. Dan 2 minggu lagi aku ujian skripsi. Dan awal agustus aku bisa di wisuda. Aigoo target waktuku tercapai. Ini semua berkat doa dari Umma dan doa dari dia. Ya Donghae. Lee donghae kini sudah menjadi namja chinguku. Sudah sekitar 3 minggu kami pacaran. Dia pacar pertamaku dan kata Nayoung juga cinta pertamaku. Aku masih menyangkalnya dengan mengatakan cinta pertamaku adalah Yunho TVXQ. Yang aku ingat dari ocehan Nayoung:

“Heeii Choi Hyorin, Yunho itu cuman idolamu bukan cinta pertamamu”

“Tapi aku cinta dia Nayoung-ah”

“Tapi dia ga cinta kamu Hyorin-ah”

“Aku merasakan cemburu kalau Yunho digosipkan dengan wanita lain, Nayoung-ah”

“Ah oke Choi Hyorin aku akan bilang kalau Jung Yunho itu cinta pertamamu jika Yunho juga mencintaimu”

Nayoung menambahkan “Yang sekarang menjadi kekasihmu itu Lee Donghae bukan Jung Yunho, Hyorin-ah” ucapnya sambil memegang pipiku.

“Ne. Arraseo. Aku mencintai Lee Donghae kok”

Oiia aku terpaksa memberitahukan pada Nayoung jika Donghae adalah kekasihku karena dia menemukan foto saat Donghae sedang mencium keningku di folder hapeku. Dia berjanji tidak akan membocorkan kepada siapapun, dan aku percaya pada Kim Nayoung. Sejak saat itu aku kapok menyimpan foto-foto Donghae di Hape ataopun dilaptop, aku menyimpannya di flashdisk 8GB yang aku khususkan untuk menyimpan semua foto-fotoku dengan Lee Donghae. Flahdisk itu kuberi nama Fishy.

3 Minggu berikutnya…

Aku lulus dari ujian skripsi dengan nilai A dan IPK terakhirku adalah 3,81  dan satu lagi aku benar-benar menjadi lulusan tercepat di Fakultas Komunikasi yakni 3 tahun 6 bulan. Semua targetku selama kuliah tercapai.

Agustus 2006

Umma dan Hyosung benar-benar datang ke Seoul, datang melihat aku Wisuda. Saat aku menjemputnya kemarin sore di Stasiun kereta, Umma memelukku dengan erat, sambil berurai airmata Umma mencium pipiku dan seluruh wajahku.

“Aigoo Umma aku sudah besar, lagian ini di stasiun” kataku lembut pada Umma.

“Umma hanya rindu padamu Yeppeo” Ucap Umma sambil mengelap matanya yang berair.

Aku mendapat kehormatan dari Universitas untuk memberi Pidato mewakili seluruh mahasiswa. Aku benar-benar tidak menyangka mendapat kesempatan emas ini.

Annyeonghaseyo, bagaimana perasaan kalian sekarang?

Aigoo, aku tidak menyangka di beri kesempatan emas untuk bisa berdiri di podium ini. Aku merasakan kakiku gemetaran dan seluruh badanku mulai berkeringat dingin.

Sebelummnya aku ingin mengucapkan Kamsahamnida, jeongmala Kamsahamnida kepada sosok wanita yang selalu mendukung dan mendoakan aku, kalau saja dia tidak membentakku 7 tahun yang lalu mungkin saja aku tidak akan pernah berdiri di podium ini. Karena perjuangannya dan kasih sayangnya aku bisa sampai melangkah sejauh ini. Kepada Umma yang sekarang sedang melihat putrinya berdiri di podium ini aku hanya bisa berkata Umma, baru ini yang bisa kuberikan untukmu, entah aku tidak tahu apa ini bisa menebus semua yang telah kau berikan padaku, aku benar-benar tidak tau apa aku bisa membalas semua yang telah kau berikan padaku Umma. Aku mencintaimu Umma. Hyosung-ah pada saatnya nanti harus kau menggantikan posisi kakakmu ini di Podium ini ya Hyosung-ya, kau harus berjanji padaku. Appa-ah, aku tau kau pasti melihat usaha putri kecilmu ini. Aku menyangimu Appa. Kepada sahabat-sahabatku, ini adalah awal dari sebuah jalan yang akan kita tempuh, percayalah bahwa jalan itu akan ada akhirnya tapi yang perlu kau lakukan adalah bagaimana cara kalian menempuh jalan itu. Kepada dosen-dosen kami yang tak pernah lelah memberi cahayanya kepada tanaman-tanaman baru kekurangan cahaya seperti kami ini. Jeongmal Kamsamnida.

Aku turun dari podium di iringi tepuk tangan yang meriah dari seluruh hadirin yang ada di gedung ini. Aku langsung memeluk Umma yang sudah menyambutku. Air mata ku sudah tak dapat ku bendung lagi. Aku benar-benar bahagia hari ini.

Dan yang membuat kebahagiaanku memuncak, aku mendapat rekomendasi dari 3 orang pewawancara saat aku magang, Junghoo Sunbae dan PD Shin Ju Ahn untuk bekerja di Mnet tanpa melalui tes apapun, karena magang kemarin sudah merupakan tes bagiku. Hanya saja aku harus melalui training time selama 1 bulan.

Di bulan Agustus ini juga Lee Dong Hae mendapat cobaan, Ayahnya meninggal karena penyakit kanker. Aku juga denger lewat Infotainment, karena waktu itu handphone Donghae sama sekali tidak bisa di hubungi. Yang aku tau Donghae sangat menyayangi Ayahnya dan aku benar-benar ingin ke Mokpo buat menenangkan dia, karena Donghae kalau sudah nangis lama berhentinya. Aku mengambil handphoneku di atas meja, aku menyusuri phonebook ku mencari nomor anak-anak super junior yang aku punya. Aissh semoga masih ada nomor yang belum di ganti.

HyukJae_SJ

Nomor yang anda tuju sedang berada……..

Aigooo ini anak pasti sudah ganti nomor.

Minnie_SJ

Nomor yang anda hubungi sedang berada di luar service area…..

Aiisshh kenapa Sungmin juga ikut-ikutan sih. Ah Heechul, aku mencoba menghubungi Heechul, namun hasilnya juga sama. Kesempatan terakhirku karena tinggal dialah nomor anak suju yang aku punya.

Eeteuk_SJ

Tuutt…tuuutt….

Ahh nyambung…

Tidak di angkat..

Kucoba sekali lagi..

“yeoboseyo” sahut suara di seberang.

“Ahh ne. Ini Choi Hyorin-ah Oppa”

“Ne Hyorin-ah .. kau pasti ingin tau kabar Donghae-ya?”

“Ne Oppa. Sudah 3 hari aku tidak bisa menghubungi dia, bagaimana keadaannya?”

“Yaa kau tau sendirilah bagaimana anak itu kalau sedang down, dia memutuskan beristirahat dulu di Mokpo sampai benar-benar tenang, handphonenya sengaja dimatikan, aku dan yang lainnya sudah kembali ke Seoul. Tapi Heechul dia di rumah sakit sekarang”

“Hufftt baiklah aku benar-benar khawatir dengan keadaannya Oppa. Ahh yyaa ada apa dengan Heechul Oppa??”

“Dia kecelakaan Hyorin-ah, cukup serius”

Aku mendengar suara Leeteuk sedih. Ah dia pasti sangat terpukul dengan keadaan dongsaeng-dongsaengnya. Oppa-ya kau memang benar-benar seorang leader yang baik.

“Begitu Oppa. Dimana dia dirawat sekarang Oppa? Aku ingin menjenguknya”

“Seoul International Hospital. Nanti sore setelah recording di Mnet aku akan kesana, kau mau bareng? Tapi Hyorin-ah disana banyak wartawan, kau akan terekspos”

“Aku kan mempunyai tanda pengenal seorang wartawan Oppa, aku juga bisa menyamar sebagai karyawan SM oppa”

“Ah ne baiklah kalo begitu, nanti sore kau langsung saja turun di basement, van ku akan menunggu disana”

“Ne oppa. Jika kau bisa menghubungi Donghae, sampaikan salamku padanya”

“Baiklah Hyorin-ah”

Aku menutup handphone flip ku. Ah Donghae-ya kau benar-benar membuat ku cemas. Bogoshipo.

3 minggu kemudian

“Aigoo capek sekali”

Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Ini sudah 3 minggu aku di training menjadi karyawan Mnet. Setiap harinya aku selalu pulang jam 8 malam. Sudah 3 minggu pula aku tidak mendapat kabar dari Donghae. Aku benar-benar rindu padanya.

Ting tong … ting tong …

Aku menghentikan langkahku menuju kamar mandi dan langsung menuju pintu depan. Aku mengintip lewat lubang di pintu tapi aku tidak melihat siapa-siapa, aku mengaitkan rantai kunci pintu, dan membuka perlahan pintu apartement sehingga hanya wajahku saja yang muncul. Ah kau…

Aku melepaskan rantai pintu, membuka pintu dan membiarkannya masuk. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi aku bisa melihat lelah dan sedih disana. Aku memeluknya. Aku benar-benar rindu dengan dirinya.

“Bagaimana kabarmu? Maafkan aku baru bisa menengokmu sekarang” ujarnya membuka percakapan.

Aku melepaskan pelukanku dan menggandengnya ke sofa.

“Gwencanayo. Bagaimana dengan keadaanmu ?” kataku.

Dia hanya tersenyum. Aku ke dapur dan membuatkannya susu coklat.

“Minumlah Donghae-ya” ucapku sambil berdiri menghadap Donghae.

“Aku khawatir dengan keadaan Heechul Hyung” ucapnya setelah minum.

Aku tahu keadaan Heechul Hyung. Saat aku menjenguknya terakhir kali, dia habis menjalani operasi pada kakinya dan di beri krup pada lututnya.

“Untuk sementara setiap kami show, dia tidak bisa ikut, butuh waktu lama untuk masa penyembuhan kakinya” Lanjut Donghae.

Aku melihat wajah donghae benar-benar menunjukkan kesedihan, 3 minggu lalu dia baru ditinggal sang Ayah tercinta dan kini Hyungnya dalam keadaan sakit. Aku mendekati Donghae, dan memeluknya. Di posisi seperti ini aku menempatkan diriku benar-benar menjadi seorang kakak untuknya. Aku merasakan butiran hangat jatuh di pundakku. Ahh Donghae-ya kau pasti sedang menangis sekarang. Aku mengusap kepalanya, memberikan ketenangan pada Donghae.

“Donghae-ya kau orang yang kuat kan, kau pasti bisa melewati ini semua” Ucapku sambil menepuk pundaknya.

Donghae melepaskan pelukanku. Menatapku dan tersenyum.

“Bolehkah aku tidur di pangkuanmu ??” ucap Donghae.

“Ne”

“Aku benar-benar tidak kuat Hyorin-ah” Kata Donghae setelah kepalanya berada di pangkuanku.

Aku memegang kepala Donghae, mengusap rambutnya dan mengelap air matanya yang mengalir.

“Aku juga rindu pada ayahku” ucapnya yang membuat Air mataku mulai yang mulai menggenangi pelupuk mataku. Aihh Donghae, aku juga merindukan Ayahku.

“Donghae-ya, yang datang bisa pergi, yang hilang bisa kembali, itulah namanya kehidupan dan kita semua pasti akan kembali pada yang menciptakan kita” Ucapku sambil mengelus rambutnya.

Donghae menatapku dengan matanya yang sayu dan menggenggam tanganku. “Dan aku juga tidak mau kau pergi” ucapnya dan mencium tanganku yang dia genggam.

“Kan sudah ku bilang yang datang pasti bisa pergi Donghae-ya, tapi sebelum waktu itu aku pasti akan menjagamu” ucapku tersenyum kemudian mengecup keningnya.

“Bukankah seharusnya kata-kata itu aku yang mengucapkan ?” ucap Donghae tiba-tiba.

Aku melepaskan ciumanku pada keningnya dan menatapnya.

“Kalau begitu katakan kembali kata-kataku tadi Donghae-ya” ucapku sambil menatap matanya.

Donghae bangun dari pangkuanku kemudian duduk bersila di sampingku. Aku menoleh menatapnya.

“Hyorin-ya jangan pernah meninggalkan aku karena aku tidak akan meninggalkanmu” kata Donghae sambil menatap mataku.

“Heei itu tadi bukan kata-kataku” Jantungku mulai kumat lagi, aku tidak bisa tahan jika di pandang oleh Donghae secara dekat seperti ini. Matanya seperti masuk ke dalam mataku dan menembus sampai ke dalam hatiku.

Donghae tersenyum “itu belum selesei Noona”

“Waktu 3 bulan bersamamu memang terasa singkat bagiku tapi aku benar-benar merasakan arti cinta sesungguhnya, dan aku ingin 1 tahun, 10 tahun, 100 tahun akan tetap seperti ini, kau harus terus bersamaku sampai kapanpun. Aku benar-benar jatuh cinta padamu Noona”

Aku ingin tertawa mendengar kata-kata Donghae barusan yang terdengar picisan dan gombal, tapi jika aku tertawa akan hilang momen-momen yang jarang terjadi seperti ini. Tapi sepertinya aku tidak bisa menahan tawaku lagi dan meledaklah tawaku.

“Hahahahahaahahaahahahaahha Donghae-ya”

Aku melihat matanya memandangku heran seperti menyiratkan apa ada yang lucu hah.

“Hahahaahahahahaahahahaha dari drama mana kau pelajari kata-kata itu Donghae-ya?” aku masih tertawa.

Donghae terlihat cemberut dan berbalik menyampingiku.

Ahh dia marah melihatku tertawa. Aku sudah keterlaluan.

“Donghae-ya” kataku setengah berbisik. Kalau sudah begini harus aku yang gantian melakukan aksi-aksi gombal yang kupelajari saat Nayoung dan Seung Jo masih berpacaran dulu. Ahh Nayoung, kau benar sekarang aku mengalami yang namanya jatuh cinta dan ternyata begini rasanya.

“Aigoo kau imut sekali saat kesal seperti itu” aku berbisik lembut di telinga kirinya.

Donghae tetap diam tak bergeming.

Aigoo aku payah sekali dalam berkata-kata.

“Donghae-ya jangan marah, aku tadi hanya bercanda, sungguh. Aku benar-benar tersentuh oleh kata-katamu tadi” kali ini aku sertai dengan belaian lembut di tengkuk Donghae. Yang sukses membuat dia tersenyum karena geli.

Aku makin menjadi ketika melihat dia kegelian karena sentuhanku.

“Donghae-ya” kini aku tanganku mengarah pada lehernya.

Donghae tersenyum tapi tetap diam tak bergeming.

Ahh aku sudah tidak tahan didiamkan begini olehnya. Aku memang bukan orang yang romantis. Aku memegang kedua pipinya dan aku arahkan wajahnya menghadapku.

“Donghae-ya” Aku menatap matanya.

“Aku minta maaf atas sikapku tadi” Lanjutku

“Aku tidak tahan kau diamkan sperti ini, ayolah Lee dong Hae jangan buat aku kesal karena sikapmu ini” Aku mulai mengancamnya.

Tiba-tiba dia tersenyum, makin lebar dan tertawa.

“Aku mendiamkan kau selama beberapa menit saja, kau sudah kalang kabut seperti itu, kau ini aigoooo….” ucapnya sambil mengacak-mengacak poniku.

Donghae mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku, jarak aku dan dia makin dekat, bisa kurasakan hembusan nafasnya di wajahku, hembusan itu makin terasa saat bibirnya semakin mendekati bibirku, aku memejamkan mataku dan merasakan bibirnya menyentuh bibirku, tapi tiba-tiba……

Life couldn’t get better (hey~) Nan nol pume ango nara Purun darul hyanghe nara (ho~) Jamdun noui ib machul koya Life couldn’t get better (hey~)

Suara dering handphone Donghae berbunyi, membuat momen romantis yang hampir saja tercipta lenyap begitu saja. Aku menarik diriku dan berjalan menuju dapur karena menutupi wajahku yang sudah merah karena ciuman tidak-jadi tadi. Donghae mendengus kesal dan merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan yang cukup mengganggu tadi.

“Yeoboseyo”

“Oh ya Hyung, kau sudah di bawah, aishh kenapa cepat sekali sih”

“Ne. Baiklah aku akan turun”

Ahh sepertinya itu dari Hyungnya yang sudah menjemputnya di bawah.

“Noona-ya, aku pulang dulu, Shindong Hyung sudah menunggu dibawah ternyata”

“Ahh Ne” aku mengantarnya sampai pintu lift.

“Kau jangan lupa makan Noona-ya, kau masih masa training kan” ucap Donghae saat pintu lift sudah terbuka.

“Ahh kau juga Donghae-ya jaga kesehatanmu” kataku saat donghae sudah masuk kedalam lift.

“Sebentar Noona-ya” aku berbalik mendengar panggilan Donghae.

Donghae keluar dari lift, berlari ke arahku dan mengecup keningku dan berbisik di telingaku “Noona neomu yeppeo, jeongmal saranghaeyo”

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, kemudian dia berlari masuk lift yang membawanya turun.

“Nado Saranghaeyo” ucapku pelan menatap pintu lift yang sudah tertutup.

TBC


Sebenarnya draft fanfic ini sudah cukup lama teronggok tak berdaya di folder laptop, dan sebenarnya ini adalah fan fiction pertama yang saya bikin setelah terjun kedalam dunia per-fanfiction-an. Jadi bisa di pastikan ceritanya bakal lebay dan juga saya mohon maaf jika bnyak typo dan gaya penulisannya yang sedikit aneh. *bow*

2 thoughts on “[fanfic] Day by Day Chapter 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s