[fanfic] Just Seven Days Last Part [Suju Version]

 Annyeonghaseyo…

Karena suatu alasan tertentu akhirnya author merilis (sett dah kayak apa aja) fanfic ini dengan versi lain yaitu Super Junior version. Karena di versi lainnya TVXQ adalah castnya.

Cast: Lee Hyukjae, Park Narin, Kim Hyora, Lee Donghae, Suju Member.

Sebelumnya: Part 1

Aku tidak mau hubunganku dengan Hyora berakhir sesingkat ini. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Narin. Aku harus mempertanggungjawabkan seluruh ucapanku padanya.

Aku berusaha membuat Hyora membenci diriku. Aku mulai ke klub, aku mulai bolos kuliah, aku merokok di hadapannya, dan aku jarang membalas sms-smsnya. Aku pikir cara itu berhasil, tapi ternyata tidak. Hyora tetap memperlakukanku seperti biasanya. Perhatiannya tetap tercurah lebih padaku. Aku kewalahan harus pakai cara apalagi untuk membuat Hyora membenci diriku.

Narin sebenarnya tidak memberikan tenggat waktu kepadaku, tapi dia terus mengingatkan agar aku menghentikan permainanku karena perasaanku sudah terlalu banyak terlibat. Tidak profesional katanya. Cissh. Narin sendiri mungkin sudah mematahkan hati banyak lelaki, sedangkan aku menyakiti seorang gadis yang ternyata terlalu baik untuk diriku. Kita berdua sama-sama brengsek Narin-ah, tapi karena dirimulah aku menjadi seperti ini.

“Baiklah kalau kau putus dengan gadis itu, maka aku akan akhiri semua ini, dan kita kembali seperti awal lagi” ucapan Narin semalam terngiang di telingaku.

“Apa kata-katamu bisa dipercaya ??” ucapku tidak yakin.

“Apa kau pernah melihat diriku memilih laki-laki lain hah ??” tanya Narin balik.

Aku terdiam.

“Pada akhirnya aku tetap memilihmu Lee Hyukjae, aku pasti kembali padamu”

“Gadis itu…..” ucapku tersendat.

“Aku liat dari profil facebook-nya sepertinya dia gadis yang baik, itu yang bisa membuat perasaanmu terlibat Eunhyuk-ah. Gadis itu terlalu baik bersanding dengan dirimu. Kau sama brengseknya dengan diriku, kau lebih pantas dengan diriku” ucapan Narin membuat pikiranku semakin kacau.

Narin benar, semakin hari perasaanku semakin tidak terkendali. Di hatiku terisi dua perempuan yang sama-sama kucintai. Aku tidak bisa menyakiti keduanya. Dan aku harus memilih salah satunya. Namun pilihanku sudah terbaca jelas.

Hyora seperti seorang malaikat bersayap putih sedangkan aku seorang iblis yang selamanya tidak akan pantas bersanding di sisi malaikat.

November 10th

Kau tau Hyora-ya, aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta dengan seorang gadis. Seorang gadis seperti malaikat.

Seorang gadis manis dengan sejuta perhatiannya.

Seorang gadis manis dengan sejuta kesabarannya.

Seorang gadis manis dengan sejuta kedewasaanya.

Seorang gadis manis dengan senyuman berlesung pipi yang bisa meruntuhkan hati seorang iblis seperti diriku.

Dan apa kau tau sampai kapanpun seorang iblis tidak akan pantas bersanding di sisi malaikat.

Kau pantas mendapatkan malaikat yang sama baiknya denganmu Hyora-ya.

Gomawo kau mau membukakan hatimu untukku.

Gomawo kau mau mengizinkan aku masuk dalam hidupmu.

Gomawo Jeongmal Gomawo.

Mianhae kau mau membukakan hatimu untukku walaupun pada akhirnya aku yang akan menyakiti hatimu.

Mianhae kau mau mengizinkan aku masuk dalam hidupmu walaupun pada akhirnya aku yang akan mengacak-acak kehidupanmu.

Mianhae Jeongmal Mianhae.

Aku melihat lagi tulisan di depan layar laptopku. Kemudian aku mengirimnya di inbox facebook Hyora. Ya aku sangat pengecut. Aku sangat pengecut sampai aku takut bertemu dengannya. Aku hanya takut membuat Hyora terluka kedua kalinya saat aku mengatakan hal itu langsung padanya.

Kau kenapa Eunhyuk-ah ?? apa aku salah ??

Sms terakhir dari berpuluh-puluh sms yang dikirim Hyora padaku dan tidak ada satupun yang ku balas. Sudah puluhan miskol juga yang tertera di layar handphone-ku dengan ID sama.

Baiklah kalau itu maumu. Tapi setidaknya temani aku makan nanti malam, baru aku akan mengabulkan keinginanmu.

Itulah sms yang Hyora kirimkan berikutnya. Perih. Yaa seperti itulah perasaanku. Dan aku tau Hyora mungkin jauh lebih sakit dari apa yang ku rasakan.

Baiklah. Jam 7 aku akan menjemputmu.

Aku membalasnya beberapa menit kemudian. Lalu aku mematikan Android-ku.

********

BUGGHHHH!!!!!

Sebuah pukulan keras menghantam pipiku saat aku membuka pintu kamar Apartmentku. Aku memegang ujung bibirku yang terasa perih.

“KAU MEMANG BAJINGAN EUNHYUK-AH !!!!”

Pukulan dari tangan atlit taekwondo itu mengantam pipiku lagi. Aku bisa merasakan anyir darah segar di mulutku.

Aku hanya berkelit tapi aku tidak bisa membalas tiap pukulan telak dari Donghae. Pemegang sabuk hitam tidak akan pernah sebanding dengan sabuk coklat sepertiku. Aku juga tidak berniat membalas karena aku tau aku memang pantas mendapat pukulan seperti ini.

Donghae menghentikan aksinya dan menggelesor ke lantai terengah-engah. Kehabisan nafas. Aku sendiri sudah meringkuk di lantai. Badanku serasa remuk.

“Harusnya aku tau seorang brengsek sepertimu tidak akan pernah berubah” ucap Donghae dengan nafas yang sudah mulai teratur.

“Mmm…iiaa…nnnhh..aa…ee” ucapku lirih.

“Ckckckkc tadi Narin meneleponku karena handphone-mu tidak aktif, aku pikir kau sudah putus dengannya ternyata kalian…….. Cisshh” Donghae tidak melanjutkan kata-katanya, namun matanya nyalang menatap diriku yang bersender lemah di dinding.

“Hyora tidak menceritakan apa-apa padaku karena aku pikir kalian baik-baik saja, tapi setelah aku memaksanya bercerita dia menunjukkan inbox yang kau kirimkan padanya, dan apa aku tau Eunhyuk-ah ?? aku malu mempunyai teman sepertimu. Kau berengsek tapi kau juga pengecut !!” Donghae masih melanjutkan hujatannya padaku. Aku sendiri hanya menatap diam. Aku memang pengecut Donghae-ya.

“Kau memang tidak pantas berada disisinya. Hyora memang tidak akan pernah pantas bersanding denganmu. Harusnya aku menentang waktu kau ingin mendekatinya”

Aku masih tidak bersuara. Aku merasakan perih di seluruh badanku, hatiku juga.

“Tapi apa kau tau walaupun aku menghentikan aksimu, aku tidak bisa menghentikan Hyora. Aku sudah mengatakan seluruh kelakukan burukmu padanya tapi Hyora tetap ingin mengetahui tentang dirimu. Hyora mencintaimu dan aku pikir kau mungkin orang yang bisa membuka hatinya kembali” Lanjut Donghae.

“Dan itu benar. Kau memang membuka hatinya tapi kau juga menguncinya kembali, kau menguncinya dengan luka Eunhyuk-ah”.

Donghae berdiri, berjalan mendekatiku dan berjongkok di hadapanku.

“Bersihkan lukamu karena aku tidak mau Hyora khawatir melihat keadaanmu”

Donghae memegang kerah kaosku kencang dan menatap mataku tajam “Temui dia dan seleseikan urusanmu !!! Setelah itu pergi jauh dari hidupnya”

Donghae keluar dari kamarku dan membanting pintu.

Air mata yang sudah ku tahan dari tadi akhirnya meluncur turun dari sudut mataku, aliran hangat di pipiku terus mengalir menyentuh bibirku menghasilkan rasa aneh karena bercampur dengan darah.

“Arraseo, aku akan seleseikan semuanya” ucapku lirih berdiri menuju westafel.

*********

“Hey Annyeong” sapa Hyora seperti biasa saat bertemu denganku.

“Masuklah” aku memaksakan senyum di bibirku yang perih dan membukakan pintu mobil untuknya.

“Gomawo Eunhyuk-ah”

“Mau makan dimana ??”

“Aku ingin makan bulgogi, dari tadi aku lelah sekali makanya aku ingin makan banyak hari ini” Jawab Hyora riang.

Dia pasti lelah karena menangis. Kacamata yang dia pakai hanya kamuflase menutupi matanya.

“Baiklah” aku menstarter mobilku dan melesat menuju restoran favoritku. Yaa favorit Hyora juga.

“Wajahmu kenapa Eunhyuk-ah ??” Suara Hyora memecah keheningan. Tidak biasanya suasana di mobil seperti ini. Biasanya selalu ada canda dan tawa saat bersama.

“Latihan, persiapan kejuaraan” ucapku singkat mencari alasan.

“Aku baru tau jika peraturan Taekwondo sudah di ubah. Setahuku Taekwondo itu dilarang menyentuh wajah kan” Kata Hyora memandang lurus kedepan.

Perkataan Hyora kontan membuatku seulas senyum di bibirku. Aku benar-benar akan merindukan gadis ini.

Di restoran aku melihat Hyora benar-benar makan dengan lahap, seperti biasanya. Namun kali ini aku mendengar isakan saat dia mengunyah.

“Ssshhaaalllhhaakku aappphhhaa Euunhhyyuukk-aahh ??” tanya Hyora dengan mulut penuh makanan. Hyora menunduk.

“Kau tidak salah, aku yang salah, sekarang kau makan dulu saja”

Suasana di mobil sangat hening. Aku sibuk dengan pikiranku dan Hyora dia bersender ke jendela. Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan.

“Hyora-ya aku….” Aku tidak melanjutkan perkataanku.

“Katakan saja alasanmu tidak perlu meminta maaf” Ucap Hyora dingin, kepalanya masih menyender di jendela. Dia menuliskan sesuatu di jendela dengan telunjuknya, tapi aku tidak bisa membacanya karena jendela kaca mobilku berwarna hitam.

“Kau terlalu baik untukku, aku tidak pantas untukmu” ucapku akhirnya.

“Cish berikan alasan lain yang lebih masuk akal Eunhyuk-ah” Jawab Hyora sarkatis.

“Kau pantas mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku”

“Apa aku harus jadi jahat dulu, harus menjadi brengsek baru bisa bersanding denganmu ??”

Aku melihat air mata mengalir pelan di pipi kiri Hyora.

“Andwe !!! kau seperti ini saja. Jangan sekalipun menjadi orang jahat” Aku duduk menyamping menatap Hyora yang masih enggan menatapku.

“Percuma aku menjadi orang baik walopun akhirnya aku akan di sakiti lagi, lebih baik aku menjadi orang brengsek yang tidak akan pernah merasa sakit hati. Benar kan Eunhyuk-ah ??” Hyora menoleh dan menatapku.

Aku hanya menggeleng kuat. Kau tidak boleh berubah Hyora-ya.

“Aku tidak peduli apa kata orang mengenai dirimu. Aku hanya percaya padamu Eunhyuk-ah”

“Mianhaeyo Hyora-ya”

“Kau tidak perlu meminta maaf Eunhyuk-ah, karena aku tidak mengerti letak salahmu dimana”

“Aku benar-benar tidak pantas berada di sisimu Hyora-ya”

“Kau sudah mempunyai kekasih baru ??”

Aku menggeleng “Bukan karena itu. Aku hanya merasa kau terlalu istimewa bagiku”

“Kau tidak perlu berbohong padaku Eunhyuk-ah”

Aku masih menatap Hyora lekat. Walaupun air mata masih mengalir pelan dari sudut matanya namun tatapan matanya berubah tajam. Tatapan mata yang tak pernah aku lihat selama ini.

“Cishh akui saja kalau kau sudah mempunyai kekasih baru, orang sepertimu tidak akan pernah bertahan lama pada satu cinta, ah aniooo kau mungkin tidak punya cinta, kau hanya punya nafsu, nafsu yang kau gunakan untuk merayu gadis-gadis. Yaaa kau memang berengsek Eunhyuk-ah” lanjut Hyora. Perkataannya semakin tajam. Bibir mungilnya yang selalu mengucapkan perkataan lembut kini menjadi sebuah silet yang merobek jantungku.

“Dan aku baru mengerti sekarang, seorang iblis tidak akan pantas bersanding di sisi malaikat” Kata-kata Hyora benar membuatku terhenyak kaku.

Keinginanku tercapai. Hyora benar-benar membenci diriku. Di matanya aku sudah mendapat cap negatif.

“Ya akhirnya kau mengerti Hyora-ya” ucapku lirih dan menyalakan mobil.

“Sudah sampai Hyora-ya” ucapku pelan di depan rumahnya.

Hyora menghapus air matanya dan menghela nafas kencang.

“Hyo..” aku memegang tangan Hyora saat hendak membuka pintu mobil.

“Wae ?? ada yang masih mau di bicarakan lagi ?”

Aku masih mematung.

“Tidak ada kan ?? lepaskan tanganku” Hyora menyentak tanganku kencang dan menutup pintu mobil.

“Saranghae…” ucapku lirih. Aku memeluk setir mobil dan menangis sesenggukan.

Aku menyalakan kembali handphone-ku yang dari tadi ku matikan. Ada beberapa sms yang masuk. Aku tidak peduli. Aku menekan speed dial 2.

“Yya kau dari mana saja Eunhyuk-ah ??” Ucap suara di seberang.

“Aku sudah menghentikan permainanku, maka dari itu kau hentikan juga permainanmu”

“Kau sudah putus dengannya ??” Tanya Narin.

“Ne, sesuai keinginanmu”

“Baiklah aku akan tepati janjiku padamu” jawab Narin.

“Setidaknya dari awal aku memang pantas bersanding dengan perempuan seperti dirimu” Ucapku sarkatis.

“Kau menangis Eunhyuk-ah ??? suaramu serak” Tanya Narin kembali.

“Cishh yang jelas airmata ini bukan untuk dirimu Narin-ah”

“Arraseo, kau tidak pernah menangis untuk diriku. Gadis itu memang hebat sudah membuat si brengsek-ku ini bertekuk lutut, hahahaha”

“Tutup mulutmu Narin-ah. Ah ya besok aku akan ke Busan”

“Kau rindu padaku ??” Tanya Narin kembali.

“Aku rindu pada orang tuaku !!”

“Geotjimal, bilang saja kau merindukan aku, tidak usah mencari alasan………”

KLIK. Aku menekan tombol merah pada handphone-ku.

Aku melihat list speed dialku. Yaa setidaknya biarkan angka 1 tetap di isi olehmu, Kim Hyora. Mianhaeyo.

Seven Days… iam happy because of you, iam in love with you. Thank you for coming to my life, Hyora-ya.

***********

4 Years Later

Undangan bersampul emas itu terlihat elegan dan paling mencolok di dalam kotak suratku, bertumpuk dengan surat-surat yang lain. Aku membawa tumpukan surat-surat itu ke ruang tengah dan perhatianku masih terpusat pada undangan itu. Aku melihat cover depan sampul undangan tersebut. Desainnya sangat indah dan terlihat mewah. Aku langsung membukanya.

Mataku membulat melihat deretan kalimat di dalam undangan tersebut.

Park Jungsoo

And

Kim Hyora

Hyora ??? Kim Hyora ??

“Hey kau ini hobi sekali melanggar privasi-ku yaa, sekarang kau membuka semua surat-suratku”

Suara perempuan di hadapanku tidak mengalihkan perhatianku dari undangan di tanganku.

“Aigooo akhirnya undangannya datang juga, ini milikku tau, lihat ini covernya untuk siapa” Perempuan itu langsung merebut paksa undangan dari tanganku.

“Lihat ini kepada Mrs. Lee Narin, bukan untukmu” Kata Narin menunjuk cover undangan.

“Ne, ne arraseo, arraseo, kau kenal dengan pengantinnya ??” tanyaku penasaran.

“Park Jungsoo, aku sangat kenal dengan pengantin pria-nya, aku mendesign baju pengantinnya. Dia direktur utama sebuah perusahaan Telekomunikasi di Korea dan dia sangat tampan” jawab Narin panjang lebar dengan senyuman sumringah.

“Cishh” aku hanya tersenyum sinis melihat tingkah Narin.

“Aigoo dengan siapa yaa dia menikah ? aku iri sekali. ” Narin membalik undangan dan membacanya.

“Kim Hyora ?? Kok aku familiar dengan namanya yaa ??”

“Aisshh babo ini ada foto prewedd mereka” Narin membuka lipatan halaman venue yang ternyata di baliknya ada beberapa foto pre wedding.

“Aigooo cantik sekali dia” Narin berkomentar.

Aku langsung berdiri menghampiri Narin dan melihat foto-foto prewedd tersebut.

“Hyora…” aku langsung merebut paksa undangan tersebut dan melihat lebih jeli lagi.

“Hyora ?? Nugu ??” Tanya Narin kembali.

“Aishhh Hyora ?? Hyora mantanmu ??” Narin mendelik hebat ke arahku.

“Aigoo Hyora tambah cantik, aku menyesal memutuskan dia” lanjutku yang disambut jitakan keras di kepalaku.

“Dasar brengsek” ucap Narin.

“Kau juga” ucapku tak mau kalah.

“Kau !!”

“Kau !!”

“Yaa intinya kau dan aku sama-sama brengsek” ucapku mengakhiri perdebatan konyol yang tidak akan ada habisnya ini.

END

Just Seven Days [TVXQ Version]

3 thoughts on “[fanfic] Just Seven Days Last Part [Suju Version]

  1. wow, padahal keren klo Hyuk ma Hyora.
    But iblis tdk bisa bersanding dgn malaikat. jadi deh angel Leeteuk ma angel Hyora, end

  2. Huwaaaa bagussssss luccccc…..
    Angel with Angel
    Devil with Devil haghaghaghaghag…

    Keyennnnnnn lhooooooooo sukaaa deh…
    Tu Donghae macoo amat yak…
    Kirain Hae suka ma Hyora.. ckckckc…
    Y udin Hae m Shinhae aje ye…

    Bagusssss…
    Daebakkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!

    • yaaa gomawoyo shinhae . .
      kyaaa nie ff kisah nyata looh . .
      hhhahahaa . .
      sekali-kali bwd donghae maco dong, biar fishy mkin tergila-gila ama dia, jgn cmn bkin dia nangis cengeng doang . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s