[fanfic] Beijing, I’m In Love [Part 2]

Saya membuat fanfic ini adaptasi dari novel dan Film “Eiffel, i’m in Love” karya Rachmania Arunita. Jadi jika terdapat kesamaan ide cerita itu bukanlah saya yang menjiplaknya, tapi memang buah pikiran asli dari Rachmania Eonnie dan saya hanya mengadaptasinya menjadi sebuah fan fiction, dan di fanfic ini saya mengubah tittle, time and place setting, and the cast. Gomawo for rachmania onnie🙂

Cast: Hangeng, Park Eun Hae, Lee Hongki and the other cast

Sebelumnya: Part 1

– Still Eunhae POV –

KRIIINGGGG !!!!!!!!!!

Jam beker biru mungil berdering kencang memenuhi kamar berukuran 4×4 yang didominasi warna soft pink. Sang pemilik kamar masih asyik bergelung didalam selimut, hanya tangan kirinya saja yang menggerayangi mencari sosok mungil yang mengacaukan tidurnya.

Tep !

Beberapa detik kemudian kicauan alarm langsung tewas seketika. Dan sosok di dalam selimut mulai mendengkur pelan kembali. Namun baru beberapa menit memejamkan mata tiba-tiba…

TOK TOK TOK !!!!

“Nona Eunhae !! Nona bangun nona….” Suara khas perempuan berdialek Mokpo milik Bibi Jung terdengar.

“Aishhhh tidak bisakah aku dibiarkan tidur nyenyak” aku menyingkap selimut, menguap beberapa kali lalu bangun dan berjalan untuk membukakan pintu dengan mata setengah terpejam.

“Ada apa Bi ? aku masih mengantuk”

“Nona tidak pergi ke sekolah ?”

“Ini masih pagi Bi, lagian aku kan menyetel alarm kan jam 6”

“Sekarang sudah hampir jam 7 Non”

“Hah ?!” Aku langsung melirik jam biru yang tergantung di dinding kamarnya.

“ASTAGA !!!! Bibi kenapa ga bangunin aku dari tadi sih !!! Eomma juga tumben ga bangunin aku” Aku berlari gedubrakan mengambil handuk dan melesat ke kamar mandi yang terletak di antara kamarku dan kamar Jungsoo Oppa.

“Nyonya dan Tuan pergi berjalan-jalan dengan Tuan Han pagi tadi. Bibi menyiapkan sarapan dulu di bawah”

“Aisshh siapa lagi ini didalam, ahh Jungsoo Oppa !!! cepetan mandinya gih, Aku udah telat nie” Aku menggedor kencang pintu kamar mandi.

“Ya !!! Oppa !!! jangan tidur didalam” Aku masih terus menggedor pintu dan kini kaki kananku ikut berpartisipasi memperjuangkan hakku untuk memakai kamar mandi.

“Uppss Jungsoo Oppa kan sedang magang, berarti didalam….”

“Aish masa bodoh yang berhak dengan kamar mandi ini kan aku bukan dia” Aku mengangguk-angguk sendiri dan bersiap menggedor dengan lebih kencang lagi.

Cklek !!

Pintu kamar mandi terbuka tepat saat kedua tanganku yang mengepal hendak menggedor pintu terhenti di udara.

Aku menelan ludah melihat sesosok laki-laki yang keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk putih di pinggangnya memperlihatkan dada bidangnya dengan perut kotak-kotaknya, rambut basah yang menetes semakin menambah keseksian dirinya. Jantungku mulai berdegup tidak beraturan menyaksikan pemandangan maha indah di hadapanku.

Aku masih berdiri mematung memandang takjub sosok didepanku. Jungsoo Oppa bahkan tidak mempunyai badan sebagus ini. Sedangkan Hongki pasti membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan abs itu. Bagaimana rasanya jika aku bisa memeluk dada bidang itu. Bagaimana saat dia mendekapku. Aku pasti akan merasa sangat hangat. Imajinasiku mulai melantur kemana-mana

“Sampai kapan kau mau berdiri disitu hah ?!!”

Suara ketus milik seseorang langsung menghentikan lamunanku. Siapa lagi kalau bukan suara pemilik badan yang baru saja membuatku melting dan hampir nyaris mimisan. Hangeng.

“Ah….ehh mian.. ah aku mau mandi” ucapku kikuk.

 “Kalau begitu minggir, kau menghalangi jalanku !”

“Eh mian..”

Huh, apa dia tidak bisa sekali saja berlaku baik kepadaku, harusnya dia kan yang minta maaf padaku. Aku menggerutu dalam hati.

Aku menunduk dan mempersilahkan Hangeng lewat.

“Yaa babo gateun, kenapa tadi aku melamun di depannya” Aku mengutuk diriku sendiri di dalam kamar mandi.

“Aish betapa memalukan kejadian tadi. Pasti dia berpikiran kalau aku tadi menikmati badannya”

“Aish babo babo” Aku mengetuk kepalaku berkali-kali. Hampir saja aku menjedukkan kepalaku di dinding kamar mandi karena kebaboanku tadi. Hangeng pasti melihat wajah cengoku saat aku menikmati badannya tadi. Aish, jinjja.

Tidak sampai 5 menit, aku langsung keluar dari kamar mandi dan melesat kekamar bersiap-siap memakai seragam. Aku menuruni tangga sambil menguncir rambut menuju meja makan dan langsung menyambar roti yang disediakan oleh Bibi Jung, dan meminum segelas susu sekedarnya.

“Bibi… Aku berangkat dulu yaa. Bilangin ke Eomma, aku pulang terlambat ada belajar kelompok di rumah Jisun” aku berpamitan kepada Bibi Jung tanpa memperdulikan Hangeng yang sedang sarapan sambil membaca majalah.

“Ne, algesimnida” jawab Bibi Jung.

“Pak Lee nanti tidak usah menjemputku. Aku ada belajar kelompok di rumah Jisun. Dan pulangnya akan diantar oleh temanku” Ucapku pada Pak Lee begitu sampai di sekolah.

“Baik ageshi” jawab Pak Lee patuh.

Aku menutup pintu mobil dengan senyuman kemenangan. Akhirnya pulang sekolah nanti aku bisa kencan dengan Lee Hongki. Aku berlari riang ke pintu gerbang yang sudah mulai di tutup. Tepat jam 7.15 gerbang sekolah langsung ditutup.

“Bagaimana nanti bisa kan ?” Tanya Hongki di kantin saat makan berdua denganku.

“Sip bisa dong” jawabku pasti.

“Akhirnya kita bisa berkencan juga” Hongki tersenyum senang dan merangkul pundakku.

“Yaaa ! ini masih di sekolah”

“So ? Aku ingin semua orang tahu kalau gadis chubby manis dihadapanku ini adalah kekasihku”

“Ah aku kan tidak gendut, Hongki-ya” Aku merajuk begitu mendengar kata Chubby.

“Bukan gendut Yeobo, tapi Chubby” Hongki mencubit pipiku.

“Ah aku kan udah diet masa sih masih chubby”

“Andwe ! jangan diet-diet lagi, aku tidak mau melihat kau sakit hanya karena ingin menurunkan berat badanmu” Hongki menatap lekat mataku.

“Yaa !! jangan melihat aku seperti itu Hongki-ya, aku malu” Aku langsung mengalihkan pandanganku. Jantungku berdesir kencang saat Hongki menatapku tadi.

“Ahh naui yeoja neomu kyeopta” Hongki mencubit gemas kedua pipiku.

“Yaa.. Hongki-ya…”

*******

 “Gomawo Hongki-ya sudah mengantarku pulang” Aku turun dari motor sport merah dan menyerahkan helm kepada Hongki.

“Cheonmaneyo, aku senang bisa berkencan denganmu hari ini. Kau tidak apa-apakan berjalan dari sini kerumahmu ?”

“Gwencana Hongki-ya, daripada Appa dan Eomma-ku tahu kalau aku berbohong pada mereka tidak ke rumah Jisun”

Hufttt.. Hongki menghela nafas berat. “Sepertinya aku butuh waktu yang lama agar bisa menjemput dan mengantarmu”

“Mianhae Hongki-ya”

“Ne, aku akan menunggumu Park Eunhae. Aku akan menunggu sampai aku bisa meminta izin kepada kedua orangtuamu untuk mengajak dirimu keluar”

“Gomawo Hongki-ya, jeongmal gomawo”

“Kau pulanglah, aku akan menunggumu disini sampai kau masuk ke rumahmu”

“Ne, aku pulang dulu Hongki-ya”

Aku melambaikan tangan pada Hongki dan berjalan menyusuri trotoar menuju rumahku yang berjarak 3 rumah didepanku.

“Park Eunhae !”

Aku berbalik begitu mendengar Hongki memanggil namaku. Hongki berlari kecil kearahku dan…

Chu~

Sebuah kecupan singkat mendarat dikeningku. Seperti tersengat listrik aku hanya berdiri diam tanpa sepatah kata, memegang keningku dan menatap namja manis didepanku. 4 bulan pacaran dengan Hongki baru kali ini dia mencium keningku. Jantungku mulai berdegup tidak karuan.

Yaa Eunhae-ya jangan pingsan ataupun mimisan disini, ucapku dalam hati menguatkan diriku.

“Pulanglah” ucap Hongki lembut dan memegang kepalaku.

“Ah ne..” ucapku salah tingkah.

“Sampai ketemu besok di sekolah yeobo” Hongki melambaikan tangannya dan tersenyum padaku.

Aku hanya membalas dengan senyuman kecil. Jantungku masih belum bisa tenang dengan kecupan tadi.

Yaa, dia mencium keningku saja aku sudah seperti ini. Bagaimana kalau nanti dia mencium bibirku… Oh, omo omo mungkin aku akan pingsan saat itu juga. Aku tersenyum-senyum sendiri menikmati imajinasiku.

Saat aku berbalik, Hongki masih berdiri melihatku dan tersenyum.

Aigoo beruntungnya diriku mempunyai namja setampan dia, ucapku dalam hati.

“Aku pulang …” ucapku setelah membuka pintu rumah.

“Kau darimana saja Eunhae-ya ?” suara Eomma menyambutku di ruang tengah.

“Ah .. Eomma aku habis pulang belajar dari rumah Jisun”

“Kau jangan bohong” Suara Eomma menyelidik.

“Beneran kok Eomma, aku habis belajar kelompok sama Shinhae juga”

“Tadi Eomma ketemu Jisun di Rainbow Bakery, dia sedang bersama Eommanya juga”

Deg. Aduh. Otthoke ?

“Hemmm iyaa … tadi ….” Aku gelagapan mencari alasan. Jujur saja aku masih kesulitan jika berbohong dengan Eomma. Eomma akan cepat menyadari gelagatku jika aku berbohong.

“Eunhae bersama saya Omoni”

Aku berbalik dan melihat Hangeng berjalan ke arahku seraya menunduk takzim ke Eomma.

“Mwo ?!” Aku kaget mendengar apa yang di ucapkan Hangeng.

“Tadi Eunhae memang habis belajar sebentar dari rumah Jisun tapi setelah itu Eunhae menemani saya berkeliling Seoul, Omoni”

Eomma menatap penuh selidik ke arahku mencoba mencari kebenaran dimataku. Aku sendiri masih gugup dan menetralkan ekspresi wajahku.

“Apa itu benar Eunhae-ya ??” Tanya Eomma.

“Ah eh ne Eomma” jawabku pelan.

“Aigooo.. lain kali kau harus bicara jujur jika ingin pergi bersama Hangeng, jangan mencari alasan lain. Kau membuat Eomma khawatir”

“Ne, Eomma” Aku mengangguk malas tapi juga lega.

“Chosohamnida Omoni, lain kali saya akan beritahu anda terlebih dahulu jika mengajak Eunhae”

“Ah gwenchana Hangeng-ah, kau tidak perlu meminta izin jika ingin mengajak Eunhae. Aku percaya padamu. Aku hanya ingin Eunhae berbicara jujur saja”

Aku mengerling kesal pada Hangeng. Aish, dasar pria bermuka dua. Seperti malaikat didepan Eomma tapi bagaikan iblis jika berbicara denganku.

“Eunhae keatas dulu Eomma”

“Ne, setelah mandi, kau turun makan malam ya dan kau juga Hangeng-ah”

“Arraseo Eomma” “Ne, Omoni”

“Kau masih amatir mengarang cerita. Kau harus lebih banyak berlatih jika ingin berbohong pada orang tuamu”

Langkahku menuju kamar terhenti mendengar suara dingin Hangeng. Hangeng berdiri di depan pintu kamarnya tengah melihatku dengan senyuman err seperti mengejekku. Setelah itu dia langsung menutup pintunya sebelum aku membalasnya.

“Mwo ?! Aissh jinjja”

*******

TENG TENG TENG !!!

“Ya sekian dulu kelas kita sore ini, dan jangan lupa tugas lukis bangunan 3 dimensi deadline paling lambat besok lusa” Changmin Sonsengnim mengakhiri kelas.

“Algesimnida, Sonsengnim !!!” jawab hakseng kelas XI serempak.

Aku sangat menyukai kelas lukis. Karena hanya di kelas inilah aku mampu menunjukkan kemampuan menggambarku. Makanya aku bercita-cita akan mengambil jurusan design ataupun lukis saat kuliah nanti.

Aku berjalan beriringan keluar kelas bersama Jisun dan Shinhae.

“Yakin kau tidak mau ikut kami Eunhae-ya ?” Shinhae masih ngotot mengajakku.

“Ya Shinhae percuma saja kau mengajak Eunhae, dia tidak akan di izinkan pergi oleh eommanya” Jisun menimpali.

Andai saja aku bisa menggunakan waktuku shopping bersama teman-temanku. Aku menghembuskan nafas berat.

Saat aku berbelanja baju ataupun semacamnya, Eomma lah yang akan menemaniku.

“Kami duluan yaa Eunhae” Jisun pamit denganku dan berjalan menuju Swift biru yang sudah menunggunya di gerbang.

“Ne..” Aku melambaikan tangan dan hanya tersenyum kecil. Miris.

“Aigoo Pak Lee kok belum jemput sih ? tau gini tadi aku membiarkan Hongki menunggu-ku. Mana handphone lowbat lagi”

“Ah lebih baik aku menunggu Pak Lee di cafe depan saja” Aku menyeberang jalan menuju sebuah cafe yang terletak di seberang sekolahku.

Suasana cafe cukup ramai mengingat ini jam pulang sekolah, beberapa murid sekolahku sedang bercengkerama bersama teman-temannya.

Aku duduk di kursi yang menghadap ke jalan dan hanya memesan chocolate float. Aku memasang headset dan membaca majalah yang tersedia di meja.

“Ehem.. permisi”

Aku menengadah dan melihat seorang namja hemm sedikit culun tapi lumayan manis err imut sedang berdiri kikuk didepanku. Dari seragam sekolahnya yang sama persis denganku, bisa kusimpulkan dia satu sekolah denganku tapi tidak satu angkatan denganku, karena aku tidak mengenal dia.

Aku melepas headsetku. “Waeyo ?”

“Ah eh Noona…” ucap namja itu kikuk.

Wajah polosnya membuatku ingin mencubit gemas pipinya. Kenapa baru sekarang aku menyadari mempunyai adik kelas semanis dan seimut ini.

“Anu.. Noona…”

Namja tersebut masih menunduk malu dengan mengetuk-ngetukkan kaki kanannya di lantai. Ah kelakuannya itu seperti tingkah Gil Ra Im saat grogi dalam drama favoritku.

Aku masih diam menunggu dia melanjutkan pembicaraannya. Sepertinya namja ini adalah adik kelasku.

“Aku kalah bertaruh dari teman-temanku dan hukumannya aku harus berkenalan denganmu Noona” ucap namja itu akhirnya.

“Hahahhahaa jadi dari tadi kau ingin mengucapkan itu”

Namja itu mengangguk malu. “Aku tau kau adalah kakak kelasku jadi aku malu”

Aku tersenyum menatapnya “Eunhae. Park Eunhae iminda” ucapku sambil mengulurkan tangan.

Namja itu langsung melihat ke arahku dan membalas uluran tanganku, “Lee Taemin iminida. Kelas XF. Mannaseo bangeupsemnida”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

“Ah gomawo Noona, aku takut kau menganggapku aneh karena berkenalan tiba-tiba” ucap Taemin.

Ah Taemin terlalu imut untuk dikatakan aneh. Aku dengan senang hati jika ada yang ingin berkenalan denganku apalagi kalau dia good looking. Hemm insting wanitaku  berjalan.

Aku menggeleng pelan, “Gwenchana”

Taemin berjalan menuju teman-temannya dan disambut teriakan riuh oleh teman-temannya.

Aku hanya tersenyum melihat kelakuan adik-adik kelasku.

Suara kencang klakson mobil mengagetkan aku, “ah Pak Lee datang”

Aku bergegas menuju mobil dan berdiri menunggu Pak Lee keluar dan membukakan pintu mobil untukku.

Tapi beberapa detik aku berdiri tidak ada tanda-tanda Pak Lee keluar dari dalam mobil.

Tiba-tiba kaca mobil terbuka, dan aku cukup shock melihat yang menjemputku bukanlah pak Lee melainkan Hangeng.

“Ngapain kau masih berdiri disitu, cepat masuk !”

Ahh jinjja, aku malas berurusan dengan namja ini. Aku merengut kesal dan membuka pintu mobil terpaksa.

 “Pak Lee kemana ?”

“Pak Lee mengantar Appa ke Daegu” jawab Hangeng cuek.

“Ohh…”

Aku menjulurkan tangan menyetel tape, ah Hands Up 2PM. Aku mengangguk-anggukan kepalaku mengikuti irama lagu bergenre disco tersebut.

“Put your hands up and get your drinks up..” Aku menyanyi melantunkan bait lagu yang dinyanyikan Chansung.

Hangeng tiba-tiba mematikan tape saat aku sedang asyik bernyanyi.

“Eh kok dimatiin ?” Tanyaku tidak terima.

“Berisik. Suaramu juga sangat berisik”

“Tapi aku mau dengerin lagunya” Aku masih mencoba menyetel tape. Namun tangan Hangeng jauh lebih sigap menepis tanganku dari tape.

“Kau bisa mendengarkan sendiri nanti. Aku sedang tidak ingin mendengarkan musik” Hangeng masih menatap lurus jalanan tanpa menoleh sedikitpun kepadaku.

Apa Soman Ahjussi tidak mengajarkan anaknya ini sopan santun saat berbicara hah.

“Kau itu kenapa sih tidak pernah sekalipun baik kepadaku ?” Emosiku sedikit terpancing karena kelakuannya.

“Aku tidak akan menjemputmu kalau aku tidak baik” Jawab Hangeng dengan nada datar err sangat datar.

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menjemputku kan”

“Kau itu harusnya berterima kasih karena aku mau menjemputmu”

“Tanpa kau yang menjemput, aku juga bisa pulang sendiri kok, aku bisa menyuruh temanku menjemputku”

“Temanmu yang menciummu didepan rumah tempo hari hah ? ”

“Eh darimana kau tahu ?”

“Tingkah kalian terlalu childish melakukan hal tersebut di depan rumah”

“Mwo ? Childish ? Setidaknya dia lebih baik dari dirimu. Dia orang yang lembut dan perhatian”

“Mana ada laki-laki baik yang mengantar seorang gadis pulang tanpa pamit pada orang tuanya”

“Lalu kau orang baik hah ? laki-laki bermuka dua, kau selalu baik dihadapan kedua orang tuaku tapi kau tidak pernah baik kepadaku”

“Kau ini berisik sekali, lebih baik kau diam”

“Kau yang mulai duluan kan”

“Aish” Hangeng memukul setir mobil kencang dan menghentikan mobil mendadak.

“Turun !”

“Mwo ? ini masih jauh”

“Jauh ? kau tinggal jalan beberapa meter langsung sampai”

“Apa kau bilang, ini jauh tauk !”

“Cerewet, cepat turun ! aku tidak bisa berada satu mobil dengan gadis bawel sepertimu”

“Mwo ?!”

“Cepatlah turun ! Aku sudah ada janji dengan seseorang dan sekarang terlambat karena menjemputmu”

“Aishh, kalau kau tidak ikhlas lebih baik tidak usah menjemputku”

“Ya, aku memang tidak ikhlas” Jawab Hangeng masih dengan nada sedikit ketus.

Aku turun dari mobil dan membanting pintu mobil kencang. Hangeng benar-benar keterlaluan.

Begitu aku turun, Hangeng langsung memacu mobilnya. Dia benar-benar meninggalkan aku disini dan menyuruhku berjalan kaki menuju rumahku.

Aku hanya mengerling kesal dan menghembuskan nafas berat.

*******

Esoknya…

Aku sedang asyik bergumul didepan komputer. Asyik menjelajah dunia twitter. Membalas mention dari Hongki dan mendownload beberapa lagu-lagu baru.

“Eunhae-ya !” Aku menoleh melihat Jisun masuk ke kamarku dengan napas ngos-ngosan.

“Wae ?”

“Aku baru saja bertemu dengan malaikat, dia tampan dan tinggi”

“Hah malaikat ? dimana ?”

“Di kamar mandi”

“Heh ?!”

“Yaa ! kenapa kau tidak pernah bercerita menyimpan namja setampan itu di rumahmu” Jisun mengguncang-guncang bahuku.

“Nugu ? Jungsoo Oppa kan sedang magang” jawabku sekenanya.

“Yaa ! bukan Jungsoo Oppa, tapi namja yang tadi masuk ke dalam kamar Jungsoo Oppa”

“Oh, dia” Jawabku malas. Aku masih kesal dengannya karena masalah kemarin.

“Dia siapa Eunhae-ya ? kenapa kau tidak pernah bilang padaku ada pria tampan tinggal di rumahmu”

“Aish, tidak usah berlebihan. Namanya Hangeng. Dia anak temen Appa dari Beijing yang sedang berlibur di Seoul” Jawabku singkat tanpa mengalihkan pandanganku dari depan komputer. Aku masih asyik twitteran dengan Hongki.

“Anak temen Appa-mu ? Yaa jangan-jangan dia sudah dijodohkan dengan mu Eunhae-ya”

“Mwo ?! jangan ngawur, aku sudah punya pacar. Lagipula aku tidak berminat dengan pria galak itu”

“Galak ? Anio. Tadi dia malah mempersilahkan aku memakai kamar mandi duluan”

Mwo ? Dia baik kepada Jisun, tapi sikapnya berbanding 180 derajat jika didepanku. Ah sudahlah pasti dia hanya mencari perhatian saja.

“Yasudaah kau ambil saja dia”

“Jinjja ? Ah kapan lagi bisa berpacaran dengan pria tampan seperti dia” Jisun mulai senyum-senyum sendiri sambil menerawang ke langit-langit.

“Yaa Kim Jisun hentikan lamunanmu dan cepat seleseikan tugas Changmin Sonsengnim !”

*******

Aku masih mencoba menghubungi Hongki. Ini sudah panggilan ke 12 dan di jawab oleh mailbox. Dia kemana sih, kenapa mematikan handphone-nya seperti ini.

Beberapa menit kemudian aku mencoba panggilan yang ke 13. Nada tunggu terdengar. Yes finally.

“Yeoboseyo” sahut Hongki dari seberang.

“Kau dari mana saja Hongki-ya ? kau bilang tadi akan menemaniku chatting. Kau belum online sampai sekarang”

“Mianhae yeobo aku sedang menemani Eomma belanja” Jawab Hongki.

Aku memang mendengar suara-suara bising keramaian dari seberang.

“Owh gitu, hemm yaudah deh, salam yaa buat ahjumma”

“Ne, yeobo”

Aku menutup gagang telepon. Kecewa. Hemm padahal aku ingin chatting dengan Hongki.

TOK TOK TOK !

Pintu kamarku diketuk oleh seseorang “Ini Eomma Eunhae”

“Masuk aja Eomma”

“Eunhae-ya tolong belikan belanjaan ini di Supermarket ya” Eomma menyerahkan catatan padaku.

“Kenapa tidak Bibi Jung saja Eomma ?”

“Bibi Jung sedang izin pulang ke Mokpo sehari, anaknya sakit”

“Oh ya ? aku pergi sama pak Lee kalau begitu ?”

“Anio, kau akan di temani Hangeng”

“Mwo ? Ah ga deh Eomma, mending ama Pak Lee aja”

“Pak Lee, Eomma suruh mengantar Bibi Jung ke  terminal. Cepat ganti baju, Hangeng udah nunggu di bawah”

Aish, dia lagi. Dia lagi. Aku malas sekali berurusan dengan Hangeng. Aku beranjak ke lemari dan mengganti bajuku.

Selama di mobil, aku tidak berkomunikasi dengan Hangeng. Suasananya cukup hening. Hangeng tiba-tiba menyetel tape dan memutar-mutar chanel radio. Suara yang familiar di telingaku terdengar dari tape. Suara DJ Leeteuk dan Eunhyuk dalam siaran Sukira. Siaran radio favoritku.

Aku menoleh pada Hangeng. Dia tau siaran radio favoritku atau memang hanya kebetulan saja. Pikirku.

Selama di supermarket, Hangeng sama sekali tidak membantu. Dia hanya jalan di belakangku. Jadi boro-boro dia membantuku membawa troli ini. Pria macam mana yang  membiarkan seorang gadis membawa troli sendiri.

“Aku bosan. Aku mau melihat-lihat dulu. Nanti kutunggu di kasir” Hangeng berbicara tanpa melihatku dan berjalan mendahuluiku dan meninggalkan aku yang berdiri menatapnya sebal. Aish, sekarang dia meninggalkan aku. Ini sama saja dengan aku berbelanja sendiri.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan barang-barang yang ada di list. Aku sudah terbiasa berbelanja dengan Eomma jadi aku hafal dimana bagian-bagiannya.

“Hangeng kemana sih” aku mengedarkan pandanganku di sekitar supermarket yang terletak di lantai dasar sebuah mall ini.

“Ah itu dia” Aku melihat Hangeng berjalan ke arahku. Tubuhnya yang tinggi tegap membuat dia terlihat sempurna saat mengayunkan kakinya yang panjang. Ah aku mulai terhipnotis dengan pesonanya lagi.

“Ayo pulang !”

Suara ketus Hangeng membuyarkan imajinasiku barusan yang berisi tentang dirinya.

“Yaa kau bantu aku membawa ini” aku sedikit kewalahan berjalan menjejeri langkah Hangeng, ditambah lagi dengan dua kantung belanjaan di tanganku.

Hangeng terus melangkah tanpa memperdulikan aku yang mulai terseok-seok membawa belanjaan. Saat sampai di basement keringatku bercucuran di kening dan napasku ngos-ngosan. Yaa sebaiknya aku harus mulai melanjutkan olahraga lariku untuk  mengatur napasku. Hangeng hanya membantu memasukkan belanjaan ke bagasi. Dan aku tidak tertarik untuk mengucapkan kata gomawo.

“Kau pikir ringan apa membawa belanjaan tadi ?” aku memulai pembicaraan yang sedari tadi kupendam.

Hangeng diam. Dia masih konsen menyetir, rahang wajahnya mengeras dan tatapannya tajam melihat jalan. Aku sedikit menciut melihat ekspresi yang tidak biasanya itu, tapi rasa kesalku padanya mengalahkan ketakutanku.

“Ya ! aku berbicara kepadamu !” aku mulai emosi.

“Sebaiknya kau diam, aku sedang tidak ingin berbicara”

“Wae ? kenapa kau selalu begini sih. Kau itu galak. Laki-laki sepertimu pasti sering dijauhi oleh yeoja” emosiku mulai tidak terkontrol. Jika ada pemukul baseball didepanku pasti akan kuhantamkan ke kepalanya.

Hangeng masih diam.

Rasa kesalku mulai naik sampai ke ubun-ubun. Aku tidak habis pikir dengan laki-laki disampingku ini. Soman Ahjussi sangat ramah, tapi kenapa anaknya bisa seperti ini sih. Aku juga memikirkan ucapan Jisun kemarin tentang Hangeng yang tidak galak padanya. Aihh atau jangan-jangan Hangeng memiliki kepribadian ganda ? Ih aku bergidik ngeri.

Pikiranku tiba-tiba melayang kepada Hongki. Namja yang mahir bernyanyi dan bermain gitar. Namja dengan senyuman menawan. Temasuk namja yang banyak digilai yeoja disekolahku, tapi diantara para yeoja, akulah yang dipilih olehnya. Hongki tidak akan membuatku marah seperti ini. Dan dia tidak akan membiarkanku dalam kesulitan. Aku seperti dimanja oleh Hongki. Sifat mereka berdua benar-benar berbanding terbalik.

“He’s perfect. Hongki jauh lebih baik” gumamku pelan.

“Aku sudah punya kekasih”

Aku menoleh kaget pada Hangeng. Apa yang barusan dia bicarakan. Kekasih ? aishh, bullshit. Mana ada yaoja yang mau pada lelaki seperti dia.

Aku tersenyum sinis “Aku tidak percaya. Mana ada yeoja yang mau pada pria galak sepertimu”

Kali ini gantian Hangeng yang tersenyum sinis, “Kau tidak sebanding dengannya 11:7, kau akan ‘kebanting’ saat bertemu dengannya”

Aku tidak terima dibanding-bandingkan dengan seseorang yang aku tidak kenal, bahkan belum pernah kutemui sama sekali.

“Kalau begitu buktikan ucapanmu” aku menantang Hangeng.

“Baik, kapan ?”

“Hemm… aku dengar besok lusa ada festival kembang api, nah kau bawa kekasihmu yang kau bangga-banggakan itu dan aku akan membawa kekasihku”

“Baik” Jawab Hangeng menerima tantanganku.

Hangeng menerima tantanganku, berarti dia memang sudah mempunyai yeojachingu. Dan jujur aku juga penasaran dengan sosok yeoja yang dia bilang berbeda jauh denganku itu. Yang jelas mata Hangeng pasti akan terbuka lebar saat melihat aku mempunyai namjachingu  sebaik dan setampan Lee Hongki.

TBC

notes: di part ini author menambahkan/menyelipkan beberapa scene yang tidak ada di buku ataupun filmnya, karena author menambahkan sesuai kebutuhan cerita.

Yaa mianhae for Kosim Han’s wife gara-gara baru rilis ffnya sekarang,,

One thought on “[fanfic] Beijing, I’m In Love [Part 2]

  1. bentar ngakak dulu..wkwkkwkwkkwwkwkkwk
    sumpah bahagia aku kalo dikelilingi bias2ku kek gt wkwkkw
    ngakak langsung pas ada nama changmin
    makin ngakak pas ada manggil nunna
    ternyata bener dugaanku ntu taemin!!! *bahagia jungkir balik* hahhaha

    ntu hongki tau banget ya klo eunhae diet pasti sakit wkkwkkwkwk
    dan bisa terbayang dengan jelas sosok yeobo yg bis mandi
    dengan perutnya yg aaaarrrrrwwwww *pingsan* wkwkkw

    hoooongggkiiiiiiii mang ganteng banget,sempurna sempurna *kecup*
    sayang km selingkuh *tabok*
    ntu aku kebayangnya akting dy di you’re beautiful loh malah
    kan mirip ma aslinya wkwkk

    lanjuuuuttt thor..udah mulai panas ne suasanya
    manteb sumpah aku suka tambahan taemin2nya *cubit pipi taemin*
    hahahhaha gomawo LUSRO *kecup muah muah*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s